MAKALAH
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING
DI SUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH BIMBINGAN KONSELING
Dosen Pengampu:
Aufia Aisa,M.Pd.I
Disusun oleh kelompok 2:
Muhammad Irfan Muzakki (2501021061)
Pransiska Alvina Nurjannah (2501021046)
Nanda Aulia Saputri (2501021044)
PROGAM PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS KH. A. WAHAB HASBULLAH
TAMBAKBERAS JOMBANG
2026 /2027
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat, taufik, hidayah, serta nikmat kesehatan yang telah diberikan, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sejarah Dan Perkembangan Bimbingan Konseling ” dengan baik. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., yang telah membawa umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk pemenuhan tugas akademik sekaligus sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pemahaman mengenai konsep dasar bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan karena memiliki peran dalam membantu individu memahami dirinya, mengembangkan potensi, menghadapi berbagai permasalahan, serta mencapai perkembangan yang optimal. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah dan perkembangan bimbingan konseling sangat diperlukan, khususnya bagi mahasiswa yang memiliki keterkaitan dengan dunia pendidikan. Dalam makalah ini, kami membahas beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah dan perkembangan bimbingan konseling. Pembahasan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai hakikat bimbingan dan konseling serta pentingnya layanan tersebut dalam membantu individu, khususnya peserta didik, dalam menghadapi berbagai kebutuhan dan permasalahan yang mereka alami.
Sabtu, 26 September 2026
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan 3
BAB II 4
PEMBAHASAN 4
A. Latar Belakang dan Sejarah Bimbingan dan Konseling di Dunia 4
B. Tokoh dalam Perkembangan Bimbingan dan Konseling 5
C. Sejarah Masuk dan Perkembangan Bimbingan Konseling di Indonesia 7
D. Bimbingan Konseling dalam Pendidikan dan Kehidupan Modern 8
BAB III 11
PENUTUP 11
A. Kesimpulan 11
B. Saran 11
DAFTAR PUSTAKA 12
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bimbingan dan konseling merupakan bagian penting dalam proses pendidikan karena berfungsi membantu peserta didik mengembangkan potensi, memahami diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta menghadapi berbagai persoalan pribadi, sosial, belajar, dan karier.
Keanekaragaman peserta didik di sekolah tentu berpengaruh terhadap proses pembelajaran maupun dalam pengembangan diri peserta didiknya sehingga diperlukan penanganan khusus dari pihak sekolah. Salah satu komponen sekolah yang turut membantu pengembangan diri peserta didik, adalah bimbingan dan konseling (BK). Sebagai bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pendidikan, Bk memiliki peran penting untuk dapat mengembangkan potensi seluruh peserta didik secara optimal. Yusuf (2011) menyatakan bahwa pemberian layanan BK terhadap peserta didik sebagai upaya mencapai perkembangan yang optimal merupakan tanggung jawab dari guru BK/Konselor.
Layanan bimbingan dan konseling perlu diselenggarakan secara sistematis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Penelitian menunjukkan bahwa layanan BK memiliki peran dalam membantu perkembangan peserta didik, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus, melalui layanan responsif, konseling, dan konsultasi dengan peserta didik maupun orang tua. Selain itu, layanan konseling individual juga berkaitan dengan upaya membantu peserta didik menyelesaikan tugas perkembangan sosialnya, meskipun keberhasilannya turut dipengaruhi oleh dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Secara historis, bimbingan dan konseling di Indonesia mengalami perkembangan sejak tahun 1960-an dan kemudian memperoleh pengakuan yang lebih kuat dalam sistem pendidikan serta profesi keguruan. Berdasarkan uraian tersebut, kajian mengenai sejarah dan perkembangan bimbingan dan konseling penting dilakukan untuk memahami landasan kemunculannya, tokoh-tokoh yang berperan, perkembangan BK di Indonesia, serta relevansinya dalam menjawab kebutuhan pendidikan pada masa kini.
Menjelang seratus tahun ke-21, panduan telah menjadi sebuah panggilan yang sangat dihormati karena mereka terkait erat dengan isu-isu perubahan zaman dan cara mereka mengelola dan bertindak dalam iklim sosial mereka. Seiring kemajuan teknologi dan kita memasuki era digital atau dikenal dengan era globalisasi, permasalahan kemanusiaan menjadi semakin kompleks. Dua puluh satu ratus tahun, atau periode globalisasi yang sedang berlangsung, digambarkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi, semakin menyempurnakan sistem korespondensi dan data, persaingan yang semakin sengit untuk memenuhi pedoman pasar global sebagai hasil pemikiran dan pertimbangan, dan semakin banyaknya permintaan pekerjaan mahir. Setiap pekerjaan harus berubah untuk memasuki masa perbaikan yang tidak dapat disangkal lagi rumit ini.
Konselor di era digital harus memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara efektif dan etis, serta memahami dampak teknologi terhadap interaksi konseling. Terakhir, penting untuk mempertimbangkan bagaimana teknologi dan inovasi dapat membantu dalam meningkatkan aksesibilitas layanan konseling, terutama di daerah-daerah yang kurang terlayani. Dengan menggunakan teknologi, layanan konseling dapat menjangkau lebih banyak orang dan memberikan bantuan konseling yang dibutuhkan .
Rumusan Masalah
Bagaimana Latar Belakang dan Sejarah Awal Munculnya Bimbingan Konseling di Dunia?
Siapa Saja Tokoh yang Berperan Penting dalam Perkembangan Bimbingan dan Konseling serta Apa Kontribusinya?
Bagaimana Sejarah Masuk dan Perkembangan Bimbingan dan Konseling di Indonesia?
Bagaimana Bimbingan dan Konseling dalam Menghadapi Kebutuhan Pendidikan dan Kehidupan Modern?
Tujuan
Untuk mengetahui latar belakang dan sejarah awal munculnya bimbingan konseling di dunia dan di Indonesia.
Untuk bisa menyebutkan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam bimbingan dan konseling
Untuk mengetahui memahami peran bimbingan dan konseling dalam membantu peserta didik mengembangkan potensi, kemampuan, dan kepribadiannya.
Untuk Mengetahui Cara Menghadapi Kebutuhan dan Kehidupan Modern dalam Bimbingan dan Konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
Latar Belakang dan Sejarah Bimbingan dan Konseling di Dunia
Bimbingan dan konseling muncul dari kebutuhan manusia untuk memperoleh bantuan dalam memahami diri, menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri, dan menentukan pilihan hidup. Pada awal perkembangannya, kegiatan bimbingan masih berbentuk nasihat, pengarahan moral, serta pendampingan yang dilakukan oleh keluarga, tokoh agama, dan masyarakat. Bimbingan dan konseling kemudian berkembang menjadi bidang profesional , terutama di Amerika Serikat, Ketika persoalan pendidikan, pekerjaan, dan perkembangan individu semakin kompleks. Jesse B. Davis dikenal sebagai salah satu pelopor awal yang memasukkan kegiatan bimbingan ke dalam lingkungan sekolah, sedangkan Frank Parsons berperan besar dalam mengembangkan bimbingan karier melalui pendekatan yang menghubungkan pemahaman diri, informasi pekerjaan, dan pengambilan keputusan.
Sejarah Perkembangan Profesi Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Menjelang seratus tahun ke-21, panduan telah menjadi sebuah panggilan yang sangat dihormati karena mereka terkait erat dengan isu-isu perubahan zaman dan cara mereka mengelola dan bertindak dalam iklim sosial mereka. Seiring kemajuan teknologi dan kita memasuki era digital atau dikenal dengan era globalisasi, permasalahan kemanusiaan menjadi semakin kompleks. Dua puluh satu ratus tahun, atau periode globalisasi yang sedang berlangsung, digambarkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi, semakin menyempurnakan sistem korespondensi dan data, persaingan yang semakin sengit untuk memenuhi pedoman pasar global sebagai hasil pemikiran dan pertimbangan, dan semakin banyaknya permintaan pekerjaan mahir. Setiap pekerjaan harus berubah untuk memasuki masa perbaikan yang tidak dapat disangkal lagi rumit ini. Konselor berhubungan dengan tragedi manusia dan kemungkinan dalam cara yang intensif, personal, dan perhatian, dan merupakan pekerjaan yang dinamis, selalu berubah, dan menyenangkan. Konselor harus memahami realitas saat ini, bukan hanya kemajuan copyright, teknologi dan informasi, tetapi juga komplikasi yang semakin kompleks karena pekerjaan mereka bergantung pada perkembangan manusia, khususnya pada abad ke-21.
Seperti yang dikemukakan oleh Subekti, layanan bimbingan dan pendampingan yang menyeluruh diharapkan dapat membantu setiap siswa agar dapat tumbuh dengan baik. Guru bimbingan dan konseling memegang peranan penting dalam membantu siswa dalam mengatasi hambatan belajar dan memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan. Menawarkan bimbingan review, motivasi, dan pertemuan pembinaan individu merupakan beberapa endi yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajar. Dengan memberikan motivasi terhadap kesulitan-kesulitan dalam belajar diharapkan siswa dapat membangun semangat belajarnya dan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. (Jambi et al., 2023)
Tokoh dalam Perkembangan Bimbingan dan Konseling
Perkembangan bimbingan dan konseling dipengaruhi oleh sejumlah tokoh yang memberikan kontribusi dalam bidang bimbingan karier, psikologi, endidikan, dan psikoterapi. Didalam tulisannya (Pribadi, 2020) menceritakan bahwa, pada awal abad ke-20, pergerakan bimbingan dipelopori oleh tokoh-tokoh penting seperti Frank Parson, Jesse Buttrick Davis, Clifford W. Beers, Eli Witwer Weaver, dan Anna Yeomans Reed. Gerakan ini lahir dari ide-ide sosialisme yang menekankan mutualisme dan reformasi sosial. Meski pada saat itu bimbingan belum diakui sebagai disiplin ilmu yang pendidikan, perannya sudah mulai dirasakan sebagai bagian penting dari pendidik pendidikan. Frank Parson, yang dikenal sebagai “Bapak Bimbingan”, mendirikan vocational bureau di Boston tahun 1905 dan menerbitkan monograf Choosing a Vocation (1909). Ia menekankan analisis diri dalam konteks sosial, serta meyakini bahwa perkembangan individu dan social dapat mendorong kesempurnaan masyarakat.
Tokoh lain yang berperan besar adalah Jesse Buttrick Davis, konselor pertama yang melaksanakan program bimbingan sistematis di sekolah Detroit (1897–1907). Davis memanfaatkan kurikulum bahasa Inggris untuk menanamkan nilai moral, kerja keras, cita-cita, dan pengembangan karakter. Ia juga turut mendirikan National Vocational Guidance Association yang kini menjadi National Career Development Association. Di sisi lain, Clifford W. Beers memperkenalkan pentingnya kesehatan mental melalui karyanya A Mind That Found Itself (1908), yang menjadi tonggak pergerakan layanan kesehatan mental di Amerika Serikat dan memberi pengaruh pada pendekatan klinis dalam bimbingan.
Selain itu, Eli Witwer Weaver dikenal sebagai “Bapak Bimbingan Vokasi pada Sekolah Umum” karena membentuk komite guru bimbingan di New York untuk membantu remaja menemukan bakat dan kecocokan kerja. Anna Yeomans Reed, seorang edukator progresif, juga berkontribusi dengan mengembangkan layanan konseling berbasis sosial darwinisme di Seattle. Reed menekankan pentingnya bimbingan dalam kurikulum sekolah sebagai penunjang pendidikan, agar siswa mampu melihat potensi diri dan bersaing secara sehat di tengah tuntutan masyarakat modern. Dengan kontribusi para pionir ini, bimbingan berkembang dari sekadar tambahan dalam pendidikan menjadi gerakan yang menekankan pentingnya konseling, kesehatan mental, dan pengembangan karier.
Sejarah Masuk dan Perkembangan Bimbingan Konseling di Indonesia
Bimbingan dan konseling di Indonesia berkembang sejalan dengan perubahan sistem pendidikan dan meningkatnya perhatian terhadap perkembangan peserta didik. Pada tahap awal, layanan ini dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan serta lebih banyak diarahkan untuk membantu siswa mengatasi masalah belajar dan penyesuaian diri. Perkembangan berikutnya memperluas fungsi BK sehingga mencakup bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier. Dalam perjalanan kelembagaannya, bimbingan dan penyuluhan mulai memperoleh tempat dalam pendidikan tinggi dan Lembaga pendidikan guru, kemudian berkembang menjadi profesi bimbingan dan konseling yang memiliki landasan keilmuan, kode etik, serta program layanan yang lebih terstruktur. Perubahan nama dari bimbingan dan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling juga menunjukkan adanya perkembangan orientasi, yaitu dari pendekatan yang cenderung menangani masalah menuju layanan yang menekankan perkembangan potensi peserta didik.
Setelah , arah dan arah di Indonesia mengalami sedikit perubahan nama. Awalnya dikenal dengan nama Bimbingan dan Konseling (BP) sebelum Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK). Penyelenggaraan BK mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1962. Padahal, BK baru diresmikan di sekolah-sekolah Indonesia sejak rencana pendidikan tahun 1975 dilaksanakan. Rencana pendidikan tahun 1984 memuat arahan profesi untuk lebih mengembangkannya. Pada tahun 2001, kemajuan BK ternyata semakin mantap. Pada tahun 2001, Ikatan Pejabat Bimbingan Indonesia (IPBI) menggantikan Ikatan Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Kemungkinan munculnya arahan dan bimbingan sebagai panggilan yang mendapat pengakuan dan kepercayaan masyarakat pada hakikatnya mendorong berkembangnya nama ini. Pedoman Keterampilan Konsel Indonesia dikembangkan oleh ABKIN, yang juga mengkoordinasikan pelatihan keterampilan advokasi.
Bimbingan Konseling dalam Pendidikan dan Kehidupan Modern
Perkembangan teknologi informasi, perubahan pendidik, dan munculnya tantangan pendidikan pada era Society 5.0 mendorong bimbingan dan konseling untuk mengembangkan bentuk layanan yang lebih fleksibel dan inovatif. Layanan BK tidak lagi hanya dilakukan secara tatap muka, tetapi juga dapat memanfaatkan berbagai media digital, seperti konseling daring, aplikasi, video konferensi, dan platform berbasis web. Pemanfaatan teknologi memungkinkan layanan BK menjangkau peserta didik secara lebih luas serta membantu konselor memberikan layanan yang cepat dan sesuai kebutuhan. Namun demikian, konselor tetap perlu memperhatikan kerahasiaan data, etika Pendidikan l, keamanan komunikasi, kompetensi digital, dan kualitas hubungan konseling. Dengan demikian, perkembangan BK pada masa modern bukan sekadar penggunaan teknologi, melainkan juga penyesuaian pendekatan layanan agar tetap humanis, pendidikan, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan psikologis peserta didik.
Perkembangan BK makin jelas di masa Orde Lama dan Orde Baru, saat pemerintah lebih serius memperhatikan layanan bimbingan di sekolah. Ini ditandai dengan penggunaan istilah Bimbingan dan Penyuluhan (BP) serta penempatan guru BP di unit pendidikan, terutama di pendidikan menengah. Saat itu, layanan BK lebih fokus pada penanganan disiplin, adaptasi diri, dan masalah belajar siswa, sehingga guru BP sering dilihat sebagai “penyelesai masalah” atau “pengawas ketertiban” di sekolah. Namun, periode ini menjadi titik penting karena mulai ada pengakuan resmi terhadap layanan bimbingan dalam pendidikan nasional, sekaligus fondasi untuk mengembangkan BK sebagai profesi ke depannya. Seiring waktu, kritik terhadap praktik BK yang hanya kuratif mendorong perubahan cara pandang dalam penyediaan layanan.
Di era reformasi, perubahan BK di Indonesia cukup besar, baik dari sisi konsep, tujuan, maupun tugas konselor. BK tidak lagi sekadar menangani masalah siswa, tapi berkembang menjadi layanan pencegahan dan pengembangan potensi pribadi. Pada masa ini, profesionalisme guru BK atau konselor makin ditekankan, dengan penguatan dasar akademik, kode etik, serta peningkatan kemampuan melalui pendidikan dan pendidik. BK diarahkan untuk membantu siswa mengenali kekuatan diri, membangun keterampilan sosial dan emosional, serta mempersiapkan masa depan, khususnya di bidang pendidikan dan karier. Paradigma baru ini menunjukkan BK punya peran kunci dalam mendukung pertumbuhan siswa secara utuh dan berkesinambungan.
Evolusi BK berlanjut hingga era kurikulum terkini, seperti Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka, yang menjadikan BK sebagai elemen penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam kurikulum itu, layanan BK difokuskan untuk mendukung pembentukan karakter, penguatan profil pelajar Pancasila, serta kesejahteraan mental siswa di Pendidikan tantangan globalisasi dan kemajuan teknologi. Konselor harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, termasuk menggunakan teknologi digital dalam layanan BK, serta menanggapi masalah baru seperti pendidik akademik, isu sosial, dan pendidikan jiwa. Dengan begitu, tinjauan ini menunjukkan bahwa perkembangan BK di Indonesia adalah proses yang terus-menerus dan fleksibel yang mencerminkan upaya pendidikan untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai konteks sosial, budaya, dan zaman.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bimbingan dan konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami dirinya, mengembangkan potensi yang dimiliki, serta menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Dalam lingkungan pendidikan, bimbingan dan konseling memiliki peran penting dalam membantu peserta didik, baik dalam bidang pribadi, sosial, belajar, maupun karier. Pelaksanaan bimbingan dan konseling perlu dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip yang tepat agar layanan yang diberikan dapat berjalan secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan adanya bimbingan dan konseling, peserta didik diharapkan mampu menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan dengan baik.
Perkembangan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh penting seperti Jesse B. Davis, Frank Parsons, Clifford Beers, Carl Rogers, dan B. F. Skinner. Jesse B. Davis berperan dalam menerapkan program bimbingan di sekolah, sedangkan Frank Parsons dikenal sebagai pelopor bimbingan karier melalui pendirian Boston’s Vocational Bureau. Tokoh-tokoh lainnya turut memperkaya BK melalui pendekatan psikoanalisis, humanistik, dan perilaku. Pemikiran mereka menjadi dasar bagi teori dan praktik bimbingan dan konseling modern.
Bimbingan dan konseling di Indonesia berkembang melalui lingkungan pendidikan dan pada awalnya dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan. Pada tahap awal, layanan ini lebih banyak diarahkan untuk membantu siswa yang mengalami masalah belajar, perilaku, dan penyesuaian diri. Seiring perkembangan pendidikan, BK berubah menjadi layanan yang bersifat lebih menyeluruh, yaitu membantu peserta didik dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier. Dengan demikian, BK di Indonesia kini menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan peserta didik secara optimal.
Perubahan teknologi dan munculnya era Society 5.0 menuntut bimbingan dan konseling untuk beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern. Layanan BK kini dapat dilakukan melalui media digital, seperti aplikasi, pesan elektronik, dan video call, sehingga lebih mudah diakses oleh peserta didik. Namun, penggunaan teknologi tetap harus disertai dengan kompetensi digital, perlindungan data, kerahasiaan, etika, dan pendekatan humanis. Oleh karena itu, BK modern harus mampu memadukan teknologi dengan empati agar tetap efektif dalam membantu peserta didik menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Saran
Bimbingan dan konseling hendaknya dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan di lingkungan pendidikan. Guru atau konselor diharapkan mampu memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik serta menciptakan suasana yang nyaman dan terbuka. Peserta didik juga diharapkan tidak ragu untuk memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling ketika menghadapi kesulitan. Selain itu, kerja sama antara guru, konselor, orang tua, dan peserta didik perlu ditingkatkan agar tujuan bimbingan dan konseling dapat tercapai dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Rima Irmayanti, Wiwin Yuliani,R. (2020). “Layanan bimbingan dan konseling bagi peserta didik berkebutuhan khusus”. Jurnal Pendidikan Khusus, 16(2), 87–93.
Haniza, N. (2024). “Sejarah perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur”.
Yulianti, Nazila Syifa Thohiroh,Journal Of Social Science Research Volume 4 Nomor 3 Tahun 2024.”Transformasi Profesi Bimbingan dan Konseling Di Indonesia”.
Rimayati, E. (2023). Cyber Counseling: “Inovasi Layanan Bimbingan Dan Konseling Di Era Digital”. Asadel Liamsindo Teknologi.
Jannah, M., dkk. (2024). “Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling.” Maliki Interdisciplinary Journal.
Yulianti, Thohiroh, N. S., Guk Guk, R. R., Putri, A. R., & Nurleni. (2024). “Transformasi profesi bimbingan dan konseling di Indonesia”. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, 4(3), 1651–1663. https://j- innovative.org/index.php/Innovative
Hendra Pribadi. (2020). “Kerangka Historis Perkembangan Ilmu Bimbingan dan Konseling.” Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo.
Yusup, M, Dkk. (2025). “Manajemen bimbingan konseling dalam perspektif Islam”. Tahta Media Group. Hal 22-23
Yulianti, Nazila Syifa Thohiroh. 2024. Transformasi Profesi Bimbingan dan Konseling Di Indonesia. Journal Of Social Science Research 4 (3)
Wahyuningsih, D. Dkk. (2023). Penerapan Layanan Bimbingan Konseling terhadap Perkembangan Perilaku Sosial Peserta Didik di SMA Negeri 2 Kota Jambi. 7, 1775–1779.
Burhani, I. K., Hidayah, N., & Wahyuni, F. (2024). “Inovasi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Era Society 5.0.” G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 8(2), 683–698.
Hakimah, M., Sunarti, T., Febriyanti, I., & Elfiyanti, I. (2026). Perkembangan gerakan bimbingan konseling di Indonesia dari masa ke masa. Harmoni Pendidikan: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(1), 103–109. https://doi.org/10.62383/hardik.v3i1.2871
Tidak ada komentar:
Posting Komentar