MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN
SIAPA YANG MENGAJARI DI MANA DIAJARKAN
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN
Dosen Pengampu:
Dr. M. Dzikrul Hakim Al Ghozali,M.Pd.I
Disusun oleh kelompok 6:
Gayo Hafid Azizi (2501021062)
Siti Hodijah (2501021042)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS KH. A. WAHAB HASBULLAH
TAMBAKBERAS JOMBANG
TAHUN AJARAN 2025/2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “Siapa yang Mengajari? dan Di Mana Diajarkan?” ini dengan baik
dan tepat waktu.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam mata
kuliah Filsafat Pendidikan. Tema ini dipilih karena mengandung
pertanyaan mendasar tentang hakikat pendidikan itu sendiri: siapa yang
sesungguhnya menjadi pengajar, dan di mana proses belajar itu berlangsung.
Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di tengah kehidupan,
dalam interaksi, pengalaman, dan refleksi manusia terhadap realitas yang
dihadapinya. Melalui makalah ini, penulis berusaha mengkaji pendidikan sebagai
proses pembentukan manusia seutuhnya dari perspektif filsafat.
Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Ustadz Dzikrul Hakim Al Ghazali, selaku dosen mata kuliah Filsafat
Pendidikan, yang telah membimbing, memberikan ilmu, arahan, serta motivasi
selama proses pembelajaran dan penyusunan makalah ini. Ucapan terima kasih juga
penulis sampaikan kepada teman-teman yang telah banyak membantu secara langsung
maupun tidak langsung selama proses pembelajaran.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
baik dari segi isi maupun penyajian. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ilmiah di masa mendatan
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca, serta menambah wawasan tentang hakikat pendidikan dari sudut pandang
filsafat.
Jombang, 22 Oktober 2025
DAFTAR ISI
2.1 Peran yang
Sebenarnya dalam Proses Mengajari Manusia dalam Konteks Pendidikan
2.2 Tempat di Mana
Proses Pendidikan Sejati Berlangsung
2.3 Makna Pengajar
dalam Konteks yang Lebih Luas
2.1 Hubungan antara
Tempat, Pengalaman, dan Interaksi Sosial dalam Membentuk Proses Belajar
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pendidikan pada
dasarnya tidak hanya tentang bagaimana seseorang menerima pengetahuan dari
orang lain, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar dari kehidupan itu
sendiri. Belajar bukan sekedar kegiatan di ruang kelas, mendengarkan guru, lalu
mengerjakan tugas. Pendidikan yang sejati mencakup hubungan manusia dengan
dirinya sendiri, dengan orang lain, dan juga dengan lingkungannya[1].
Dalam kehidupan
sehari-hari, banyak orang memahami belajar hanya sebagai kegiatan formal di
sekolah, dengan tujuan mendapatkan nilai yang baik atau ijazah. Padahal,
belajar tidak selalu membutuhkan guru, ruang kelas, atau kurikulum. John Dewey,
seorang filsuf pendidikan, mengatakan bahwa belajar adalah proses hidup itu
sendiri[2].
Artinya, setiap pengalaman yang dijalani seseorang dapat menjadi pelajaran yang
berharga, baik melalui keberhasilan maupun kesalahan.
Pertanyaan “siapa yang mengajar?” dan “dimana
mengajar?” mengajak kita untuk melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih
luas. Siapa sebenarnya yang meneliti manusia? Apakah hanya guru di sekolah,
ataukah pengalaman hidup juga bisa menjadi guru?. Ki Hajar Dewantara juga
menegaskan bahwa setiap orang bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri dan orang
lain, karena pendidikan terjadi di setiap tempat di mana manusia berproses dan
tumbuh[3].
Dengan kata lain, semua hal di sekitar manusia—keluarga, teman, lingkungan,
bahkan peristiwa hidup—dapat menjadi sumber Pelajaran.
Selain itu, Paulo
Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas menjelaskan bahwa guru dan murid
sebenarnya sama-sama belajar[4].
Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan teman belajar yang membantu
peserta didik berpikir kritis dan memahami kenyataan di sekitarnya. Dari
pandangan ini, belajar menjadi kegiatan yang dialogis, di mana setiap individu
memiliki kesempatan untuk mendalami dan diajari.
Tempat belajar
juga tidak harus selalu di sekolah. Pendidikan bisa terjadi di rumah, di
lingkungan masyarakat, bahkan di dunia digital[5].
Pengalaman berinteraksi, berdiskusi, bekerja, atau berorganisasi juga dapat
menjadi bagian dari proses belajar. Dalam konteks inilah, pendidikan dipahami
sebagai proses yang berlangsung seumur hidup (lifelong learning ), bukan
sekadar kegiatan formal yang berhenti setelah lulus sekolah[6].
Oleh karena itu,
makalah ini mencoba membahas secara filosofis tentang siapa sebenarnya yang
mengajari manusia dan di mana proses belajar itu berlangsung. Melalui
pembahasan ini, diharapkan kita dapat memahami bahwa pendidikan sejati bukan
hanya soal tempat atau sosok pengajar, melainkan tentang proses manusia belajar
dari kehidupan yang terus berjalan.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Siapa yang sebenarnya berperan dalam proses mengajari manusia
dalam konteks pendidikan?
2. Di mana proses pendidikan sejatinya berlangsung, apakah
terbatas pada lembaga formal atau meluas ke seluruh aspek kehidupan?
3. Apakah pengajar selalu harus berupa sosok guru, atau dapat
pula berupa pengalaman, lingkungan, serta diri sendiri?
4. Bagaimana hubungan antara tempat, pengalaman, dan interaksi
sosial dalam membentuk proses belajar seseorang?
1.3 Tujuan
Penulisan
1. Untuk memahami dan menjelaskan siapa yang sebenarnya berperan
dalam proses mengajari manusia ranah konteks Pendidikan.
2. Untuk menguraikan di manakah proses pendidikan sejatinya
berlangsung.
3. Untuk menggali makna pengajar dalam konteks yang lebih luas
4. Untuk menjelaskan keterkaitan antara tempat, pengalaman, dan
interaksi sosial dalam membentuk proses belajar seseorang.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Peran
yang Sebenarnya dalam Proses Mengajari Manusia dalam Konteks Pendidikan
Pendidikan Dalam ranah filsafat pendidikan, pertanyaan
tentang “siapa yang mendalami?” sesungguhnya berkaitan dengan hakikat
manusia sebagai makhluk yang berakal, memiliki kesadaran, dan mampu
mengembangkan dirinya. Selama ini, pendidikan sering dipersempit maknanya menjadi
aktivitas formal yang berpusat pada guru sebagai satu-satunya sumber
pengetahuan. Padahal, pandangan tersebut sudah lama dikritik oleh para pemikir
seperti Paulo Freire, yang menilai model ini sebagai “pendidikan perbankan”
, di mana peserta didik hanya dianggap sebagai wadah kosong yang diisi oleh
guru[7].
Dalam perspektif yang lebih luas, pengajaran tidak hanya
dilakukan oleh sosok guru, tetapi juga oleh pengalaman hidup dan lingkungan
sosial. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa setiap orang mempunyai potensi
untuk menjadi guru, karena manusia belajar tidak hanya melalui pengajaran,
tetapi juga melalui teladan dan pengalaman sosialnya[8].
Dengan demikian, pengajaran bukanlah aktivitas satu arah, melainkan hubungan
timbal balik antara pengajar dan yang diajar.
Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menambahkan bahwa
manusia sejati memiliki self-directed learning , yaitu kemampuan belajar
secara mandiri melalui kesadaran diri dan refleksi[9].
Artinya, dalam konteks pendidikan, setiap individu dapat menjadi pengajar bagi
dirinya sendiri. Guru tidak lagi ditempatkan sebagai satu-satunya figur yang
memberi ilmu, melainkan fasilitator yang menumbuhkan potensi berpikir kritis
dan reflektif pada peserta didik.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa yang berperan dalam
proses mengajar manusia tidak hanya guru secara formal, tetapi juga diri
manusia itu sendiri, masyarakat, lingkungan, dan pengalaman hidup. Pendidikan
sejati bersifat partisipatif dan dinamis—di mana setiap orang berpotensi untuk
saling mengajar dan belajar dari kehidupan.
2.2 Tempat
di Mana Proses Pendidikan Sejati Berlangsung
Oleh Filsafat pragmatisme yang dikembangkan oleh John Dewey
memandang bahwa pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, bukan
sekadar persiapan untuk hidup[10].
Oleh karena itu, proses pendidikan tidak terbatas pada ruang kelas atau lembaga
pendidikan formal. Di mana pun manusia mengalami, berinteraksi, dan
merefleksikan kehidupannya, disitulah proses pendidikan sejati berlangsung.
Ki Hajar Dewantara memperluas konsep ini dengan gagasannya
“Tri Pusat Pendidikan”, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat[11].
Ketiga lingkungan tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam
membentuk kepribadian dan karakter manusia. Keluarga berpartisipasi menanamkan
nilai moral dan spiritual, sekolah mengembangkan kemampuan intelektual, dan
masyarakat menjadi ruang praktik sosial di mana manusia belajar menjadi bagian
dari kehidupan bersama. Sebagai ilustrasi, berikut tabel yang menggambarkan
hubungan antara tempat pendidikan dan bentuk pembelajarannya:
Tabel 2.1 Hubungan
antara Pendidikan dan bentuk pembelajarannya
|
Pusat Pendidikan |
Contoh Kegiatan
Belajar |
Nilai yang |
|
Keluarga |
Mendampingi anak beribadah, berdiskusi |
Disiplin, kasih sayang, tanggung jawab |
|
Sekolah |
Proses belajar formal, diskusi kelas |
Ilmu pengetahuan, berpikir kritis |
|
Masyarakat |
Gotong royong, kegiatan sosial |
Empati, solidaritas, partisipasi |
Sumber:
Data diolah oleh penulis
Pandangan Dewey dan Ki Hajar Dewantara ini mengatakan bahwa
pendidikan sejati adalah proses yang berlangsung terus-menerus dalam seluruh
ruang kehidupan. Seseorang bisa belajar dari lingkungan kerja, komunitas,
bahkan dari tantangan hidup yang dihadapinya setiap hari. Pendidikan sejati
tidak dibatasi oleh gedung atau sistem, tetapi sejauh mana manusia mampu
menarik makna dari pengalamannya.
2.3 Makna
Pengajar dalam Konteks yang Lebih Luas
Secara filosofis, konsep “pengajar” tidak dapat dipahami
secara sempit sebagai orang yang menyampaikan pengetahuan di depan kelas. Dalam
pandangan eksistensialis, seperti yang dikemukakan Jean-Paul Sartre, manusia
adalah makhluk yang belajar melalui pilihan dan tindakan yang ia ambil. Setiap
keputusan dan tanggung jawab atas hidupnya menjadi bentuk pembelajaran
eksistensial yang tidak tergantikan. Dengan demikian, “pengajar” bisa berarti
pengalaman yang membimbing manusia memahami dirinya dan kenyataan.
Dalam filsafat pendidikan kritis, Paulo Freire memandang
pengajar sejati sebagai fasilitator kesadaran[12].
Guru dan murid adalah mitra dalam dialog yang memerdekakan, bukan hubungan yang
menindas. Melalui dialog ini, peserta didik tidak hanya belajar pengetahuan,
tetapi juga belajar memahami struktur sosial yang mempengaruhi kehidupannya.
Dalam konteks ini, pengajar mempunyai tanggung jawab moral untuk membimbing
peserta didik mencapai kesadaran kritis (kesadaran kritis).
Dalam perspektif spiritual, pengajar juga dapat dimaknai
sebagai “realitas kehidupan” itu sendiri. Dalam pendidikan Islam, segala
ciptaan Allah menjadi sumber ilmu yang dapat dipelajari manusia. Al-Qur'an
mendorong manusia untuk berpikir, merenung, dan meneliti alam sebagai bentuk
belajar tanpa batas ruang dan waktu[13].
Dengan demikian, mengajar bukan hanya manusia, tetapi juga seluruh fenomena kehidupan
yang mengandung hikmah.
2.1 Hubungan
antara Tempat, Pengalaman, dan Interaksi Sosial dalam Membentuk Proses Belajar
Dalam Dalam pandangan filosofi konstruktivisme sosial yang
dipelopori oleh Lev Vygotsky, pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan
pengalaman yang bermakna[14].
Artinya, belajar tidak hanya terjadi secara individu, tetapi juga melalui
proses sosial di mana manusia berinteraksi dan mengenal makna. Lingkungan
menjadi wadah yang memungkinkan seseorang merasakan pengalaman pribadi dengan
pengetahuan baru.
Misalnya, seseorang belajar tentang nilai gotong royong bukan
hanya dari pelajaran di sekolah, melainkan dari pengalaman langsung bekerja
sama dengan masyarakat. Dari situlah muncul kesadaran sosial dan empati. Dengan
demikian, tempat belajar dan pengalaman sosial tidak dapat dipisahkan keduanya
membentuk satu kesatuan dalam proses pendidikan yang sejati. Bagan di bawah ini
menunjukkan keterkaitan antara tempat, pengalaman, dan interaksi sosial dalam
proses belajar manusia:

Tabel
2.2 keterkaitan antara tempat, pengalaman, dan interaksi sosial dalam proses
belajar manusia
Sumber:
Data diolah oleh penulis
Dari bagan tersebut dapat dipahami bahwa proses belajar
merupakan siklus yang terus berlangsung. Tempat memberi ruang, pengalaman
memberi makna, dan interaksi sosial menumbuhkan reflektif. Ketiganya membentuk
fondasi pendidikan yang sejati, yaitu pendidikan yang mengubah manusia secara
utuh baik secara intelektual, emosional, maupun moral.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendidikan tidak hanya bergantung
pada guru formal, tetapi juga melibatkan diri sendiri, lingkungan, dan
pengalaman hidup sebagai pengajar yang membentuk manusia secara utuh. Ki Hajar
Dewantara menyatakan bahwa pendidik adalah mereka yang membimbing kekuatan
batin dan pikiran peserta didik menuju kebahagiaan hidup, sedangkan John Dewey
menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses pengalaman yang berlangsung di
mana pun manusia berinteraksi. Hal ini menunjukkan bahwa belajar dapat terjadi
di rumah, alam, maupun lingkungan sosial.
Selain itu, Paulo Freire berpendapat
bahwa pengalaman dan peristiwa hidup dapat menjadi guru yang membentuk
kesadaran kritis manusia.³ Proses belajar bersifat timbal balik dan berlangsung
sepanjang hayat ( belajar seumur hidup ). Emile Durkheim menambahkan
bahwa pendidikan berperan dalam membentuk nilai-nilai sosial agar manusia mampu
hidup selaras dalam masyarakat. Maka dari itu, pendidikan merupakan hasil
perpaduan antara guru, pengalaman, dan lingkungan yang menumbuhkan manusia
menjadi pribadi yang bijaksana, berkarakter, dan berkesadaran.
3.2 Saran
Guru bermaksud untuk berpartisipasi sebagai pembimbing yang
menumbuhkan kemandirian dan kesadaran belajar pada peserta didik. Peserta didik
perlu aktif mencari pengetahuan dari berbagai pengalaman hidup, bukan hanya
dari sekolah. Masyarakat juga diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang
mendukung proses pendidikan agar nilai-nilai sosial, moral, dan kemanusiaan
dapat tumbuh secara berkelanjutan
DAFTAR
PUSTAKA
Dewantara, Ki Hadjar, ‘Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I:
Pendidikan (Edisi II)’, Majelis Luhur PersatuanTaman Siswa, 1977
Dewey, John, ‘An Introduction of
Reflektif Thinking, by Cilombia, University A Sicciety Dalam Edisi Muzayyin
Arifin’, Filsafat Pendidikan Islam, 2003
——, Democracy and Education: An
Introduction to the Philosophy of Education (Macmillan New York, 1930), viii
Freire, Paulo, Pendidikan Kaum
Tertindas (LP3ES, 2018)
Mundiasari, Kiki, ‘Pola Hubungan Antar
Manusia Sebagai Insan Pendidikan’, Aktualita: Jurnal Penelitian Sosial
Keagamaan, 12.II (2022)
Ngongo, Verdinandus Lelu, Taufiq
Hidayat, and Wiyanto Wiyanto, ‘Pendidikan Di Era Digital’, in Prosiding
Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 2019
Rogers, Carl, ‘Freedom to Learn.
Columbus, Ohio’, Charles E. Merrill, 1969
Shihab, M Quraish, ‘Wawasan Al-Quran
(Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat),(Band-Ung: Mizan, 2006)’, Cet.
XVII
Suwarjo, Ki, ‘Pendidikan Among Sistem’, Yogyakarta:
Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2013
Tilaar, Henry Alexis Rudolf, Paradigma
Baru Pendidikan Nasional (Rineka Cipta, 2000)
Vygotsky, L S, ‘Pikiran Dalam
Masyarakat: Perkembangan Proses Psikologis Yang Lebih Tinggi’, Pers
Universitas Harvard, 1978
[1] Kiki Mundiasari, ‘Pola Hubungan Antar Manusia Sebagai
Insan Pendidikan’, Aktualita: Jurnal
Penelitian Sosial Keagamaan, 12.II (2022).
[2] John Dewey, Democracy
and Education: An Introduction to the Philosophy of Education (Macmillan
New York, 1930), viii.
[3] Ki Hadjar Dewantara, ‘Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian
I: Pendidikan (Edisi II)’, Majelis Luhur
PersatuanTaman Siswa, 1977.
[4] Paulo Freire, Pendidikan
Kaum Tertindas (LP3ES, 2018).
[5] Verdinandus Lelu Ngongo, Taufiq Hidayat, and Wiyanto Wiyanto,
‘Pendidikan Di Era Digital’, in Prosiding
Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 2019.
[6] Henry Alexis Rudolf Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional (Rineka Cipta, 2000).
[7] Freire, Pendidikan
Kaum Tertindas.
[8] Ki Suwarjo, ‘Pendidikan Among Sistem’, Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman
Siswa, 2013.
[9] Carl Rogers, ‘Freedom to Learn. Columbus, Ohio’, Charles E. Merrill, 1969.
[10] John Dewey, ‘An Introduction of Reflektif Thinking, by
Cilombia, University A Sicciety Dalam Edisi Muzayyin Arifin’, Filsafat Pendidikan Islam, 2003.
[11] Dewantara, ‘Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I:
Pendidikan (Edisi II)’.
[12] Freire, Pendidikan
Kaum Tertindas.
[13] M Quraish Shihab, ‘Wawasan Al-Quran (Tafsir Maudhu’i
Atas Pelbagai Persoalan Umat),(Band-Ung: Mizan, 2006)’, Cet. XVII.
[14] L S Vygotsky, ‘Pikiran Dalam Masyarakat: Perkembangan
Proses Psikologis Yang Lebih Tinggi’, Pers
Universitas Harvard, 1978.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar