Sabtu, 24 Oktober 2026

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN SIAPA YANG MENGAJARI DI MANA DIAJARKAN

 

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

SIAPA YANG MENGAJARI DI MANA DIAJARKAN

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN

Dosen Pengampu:

Dr. M. Dzikrul Hakim Al Ghozali,M.Pd.I


Disusun oleh kelompok 6:

 

Gayo Hafid Azizi                                (2501021062)

Siti Hodijah                                         (2501021042)

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS KH. A. WAHAB HASBULLAH

TAMBAKBERAS JOMBANG

TAHUN AJARAN 2025/2026

KATA PENGANTAR

          Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Siapa yang Mengajari? dan Di Mana Diajarkan?” ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan. Tema ini dipilih karena mengandung pertanyaan mendasar tentang hakikat pendidikan itu sendiri: siapa yang sesungguhnya menjadi pengajar, dan di mana proses belajar itu berlangsung. Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di tengah kehidupan, dalam interaksi, pengalaman, dan refleksi manusia terhadap realitas yang dihadapinya. Melalui makalah ini, penulis berusaha mengkaji pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya dari perspektif filsafat.

Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ustadz Dzikrul Hakim Al Ghazali, selaku dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan, yang telah membimbing, memberikan ilmu, arahan, serta motivasi selama proses pembelajaran dan penyusunan makalah ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman yang telah banyak membantu secara langsung maupun tidak langsung selama proses pembelajaran.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi maupun penyajian. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ilmiah di masa mendatan

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, serta menambah wawasan tentang hakikat pendidikan dari sudut pandang filsafat.

 

 

Jombang, 22 Oktober 2025


 

DAFTAR ISI

 

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.1       Latar Belakang. 1

1.2       Rumusan Masalah. 2

1.3       Tujuan Penulisan. 3

BAB II PEMBAHASAN.. 4

2.1       Peran yang Sebenarnya dalam Proses Mengajari Manusia dalam Konteks Pendidikan. 4

2.2       Tempat di Mana Proses Pendidikan Sejati Berlangsung. 5

2.3       Makna Pengajar dalam Konteks yang Lebih Luas. 6

2.1       Hubungan antara Tempat, Pengalaman, dan Interaksi Sosial dalam Membentuk Proses Belajar. 7

BAB III PENUTUP. 9

3.1       Kesimpulan. 9

3.2       Saran. 9

DAFTAR PUSTAKA.. 10

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pendidikan pada dasarnya tidak hanya tentang bagaimana seseorang menerima pengetahuan dari orang lain, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar dari kehidupan itu sendiri. Belajar bukan sekedar kegiatan di ruang kelas, mendengarkan guru, lalu mengerjakan tugas. Pendidikan yang sejati mencakup hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dan juga dengan lingkungannya[1].

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memahami belajar hanya sebagai kegiatan formal di sekolah, dengan tujuan mendapatkan nilai yang baik atau ijazah. Padahal, belajar tidak selalu membutuhkan guru, ruang kelas, atau kurikulum. John Dewey, seorang filsuf pendidikan, mengatakan bahwa belajar adalah proses hidup itu sendiri[2]. Artinya, setiap pengalaman yang dijalani seseorang dapat menjadi pelajaran yang berharga, baik melalui keberhasilan maupun kesalahan.

 Pertanyaan “siapa yang mengajar?” dan “dimana mengajar?” mengajak kita untuk melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih luas. Siapa sebenarnya yang meneliti manusia? Apakah hanya guru di sekolah, ataukah pengalaman hidup juga bisa menjadi guru?. Ki Hajar Dewantara juga menegaskan bahwa setiap orang bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri dan orang lain, karena pendidikan terjadi di setiap tempat di mana manusia berproses dan tumbuh[3]. Dengan kata lain, semua hal di sekitar manusia—keluarga, teman, lingkungan, bahkan peristiwa hidup—dapat menjadi sumber Pelajaran.

Selain itu, Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas menjelaskan bahwa guru dan murid sebenarnya sama-sama belajar[4]. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan teman belajar yang membantu peserta didik berpikir kritis dan memahami kenyataan di sekitarnya. Dari pandangan ini, belajar menjadi kegiatan yang dialogis, di mana setiap individu memiliki kesempatan untuk mendalami dan diajari.

Tempat belajar juga tidak harus selalu di sekolah. Pendidikan bisa terjadi di rumah, di lingkungan masyarakat, bahkan di dunia digital[5]. Pengalaman berinteraksi, berdiskusi, bekerja, atau berorganisasi juga dapat menjadi bagian dari proses belajar. Dalam konteks inilah, pendidikan dipahami sebagai proses yang berlangsung seumur hidup (lifelong learning ), bukan sekadar kegiatan formal yang berhenti setelah lulus sekolah[6].

Oleh karena itu, makalah ini mencoba membahas secara filosofis tentang siapa sebenarnya yang mengajari manusia dan di mana proses belajar itu berlangsung. Melalui pembahasan ini, diharapkan kita dapat memahami bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal tempat atau sosok pengajar, melainkan tentang proses manusia belajar dari kehidupan yang terus berjalan.

1.2  Rumusan Masalah

1.     Siapa yang sebenarnya berperan dalam proses mengajari manusia dalam konteks pendidikan?

2.     Di mana proses pendidikan sejatinya berlangsung, apakah terbatas pada lembaga formal atau meluas ke seluruh aspek kehidupan?

3.     Apakah pengajar selalu harus berupa sosok guru, atau dapat pula berupa pengalaman, lingkungan, serta diri sendiri?

4.     Bagaimana hubungan antara tempat, pengalaman, dan interaksi sosial dalam membentuk proses belajar seseorang?

 

1.3  Tujuan Penulisan

1.     Untuk memahami dan menjelaskan siapa yang sebenarnya berperan dalam proses mengajari manusia ranah konteks Pendidikan.

2.     Untuk menguraikan di manakah proses pendidikan sejatinya berlangsung.

3.     Untuk menggali makna pengajar dalam konteks yang lebih luas

4.     Untuk menjelaskan keterkaitan antara tempat, pengalaman, dan interaksi sosial dalam membentuk proses belajar seseorang.


 

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Peran yang Sebenarnya dalam Proses Mengajari Manusia dalam Konteks Pendidikan

Pendidikan Dalam ranah filsafat pendidikan, pertanyaan tentang “siapa yang mendalami?” sesungguhnya berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang berakal, memiliki kesadaran, dan mampu mengembangkan dirinya. Selama ini, pendidikan sering dipersempit maknanya menjadi aktivitas formal yang berpusat pada guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Padahal, pandangan tersebut sudah lama dikritik oleh para pemikir seperti Paulo Freire, yang menilai model ini sebagai “pendidikan perbankan” , di mana peserta didik hanya dianggap sebagai wadah kosong yang diisi oleh guru[7].

Dalam perspektif yang lebih luas, pengajaran tidak hanya dilakukan oleh sosok guru, tetapi juga oleh pengalaman hidup dan lingkungan sosial. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa setiap orang mempunyai potensi untuk menjadi guru, karena manusia belajar tidak hanya melalui pengajaran, tetapi juga melalui teladan dan pengalaman sosialnya[8]. Dengan demikian, pengajaran bukanlah aktivitas satu arah, melainkan hubungan timbal balik antara pengajar dan yang diajar.

Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menambahkan bahwa manusia sejati memiliki self-directed learning , yaitu kemampuan belajar secara mandiri melalui kesadaran diri dan refleksi[9]. Artinya, dalam konteks pendidikan, setiap individu dapat menjadi pengajar bagi dirinya sendiri. Guru tidak lagi ditempatkan sebagai satu-satunya figur yang memberi ilmu, melainkan fasilitator yang menumbuhkan potensi berpikir kritis dan reflektif pada peserta didik.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa yang berperan dalam proses mengajar manusia tidak hanya guru secara formal, tetapi juga diri manusia itu sendiri, masyarakat, lingkungan, dan pengalaman hidup. Pendidikan sejati bersifat partisipatif dan dinamis—di mana setiap orang berpotensi untuk saling mengajar dan belajar dari kehidupan.

2.2  Tempat di Mana Proses Pendidikan Sejati Berlangsung

Oleh Filsafat pragmatisme yang dikembangkan oleh John Dewey memandang bahwa pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, bukan sekadar persiapan untuk hidup[10]. Oleh karena itu, proses pendidikan tidak terbatas pada ruang kelas atau lembaga pendidikan formal. Di mana pun manusia mengalami, berinteraksi, dan merefleksikan kehidupannya, disitulah proses pendidikan sejati berlangsung.

Ki Hajar Dewantara memperluas konsep ini dengan gagasannya “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat[11]. Ketiga lingkungan tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk kepribadian dan karakter manusia. Keluarga berpartisipasi menanamkan nilai moral dan spiritual, sekolah mengembangkan kemampuan intelektual, dan masyarakat menjadi ruang praktik sosial di mana manusia belajar menjadi bagian dari kehidupan bersama. Sebagai ilustrasi, berikut tabel yang menggambarkan hubungan antara tempat pendidikan dan bentuk pembelajarannya:


 

Tabel 2.1 Hubungan antara Pendidikan dan bentuk pembelajarannya

Pusat Pendidikan

Contoh Kegiatan Belajar

Nilai yang
Diperoleh

Keluarga

Mendampingi anak beribadah, berdiskusi

Disiplin, kasih sayang, tanggung jawab

Sekolah

Proses belajar formal, diskusi kelas

Ilmu pengetahuan, berpikir kritis

Masyarakat

Gotong royong, kegiatan sosial

Empati, solidaritas, partisipasi

            Sumber: Data diolah oleh penulis

Pandangan Dewey dan Ki Hajar Dewantara ini mengatakan bahwa pendidikan sejati adalah proses yang berlangsung terus-menerus dalam seluruh ruang kehidupan. Seseorang bisa belajar dari lingkungan kerja, komunitas, bahkan dari tantangan hidup yang dihadapinya setiap hari. Pendidikan sejati tidak dibatasi oleh gedung atau sistem, tetapi sejauh mana manusia mampu menarik makna dari pengalamannya.

2.3  Makna Pengajar dalam Konteks yang Lebih Luas

Secara filosofis, konsep “pengajar” tidak dapat dipahami secara sempit sebagai orang yang menyampaikan pengetahuan di depan kelas. Dalam pandangan eksistensialis, seperti yang dikemukakan Jean-Paul Sartre, manusia adalah makhluk yang belajar melalui pilihan dan tindakan yang ia ambil. Setiap keputusan dan tanggung jawab atas hidupnya menjadi bentuk pembelajaran eksistensial yang tidak tergantikan. Dengan demikian, “pengajar” bisa berarti pengalaman yang membimbing manusia memahami dirinya dan kenyataan.

Dalam filsafat pendidikan kritis, Paulo Freire memandang pengajar sejati sebagai fasilitator kesadaran[12]. Guru dan murid adalah mitra dalam dialog yang memerdekakan, bukan hubungan yang menindas. Melalui dialog ini, peserta didik tidak hanya belajar pengetahuan, tetapi juga belajar memahami struktur sosial yang mempengaruhi kehidupannya. Dalam konteks ini, pengajar mempunyai tanggung jawab moral untuk membimbing peserta didik mencapai kesadaran kritis (kesadaran kritis).

Dalam perspektif spiritual, pengajar juga dapat dimaknai sebagai “realitas kehidupan” itu sendiri. Dalam pendidikan Islam, segala ciptaan Allah menjadi sumber ilmu yang dapat dipelajari manusia. Al-Qur'an mendorong manusia untuk berpikir, merenung, dan meneliti alam sebagai bentuk belajar tanpa batas ruang dan waktu[13]. Dengan demikian, mengajar bukan hanya manusia, tetapi juga seluruh fenomena kehidupan yang mengandung hikmah.

2.1  Hubungan antara Tempat, Pengalaman, dan Interaksi Sosial dalam Membentuk Proses Belajar

Dalam Dalam pandangan filosofi konstruktivisme sosial yang dipelopori oleh Lev Vygotsky, pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman yang bermakna[14]. Artinya, belajar tidak hanya terjadi secara individu, tetapi juga melalui proses sosial di mana manusia berinteraksi dan mengenal makna. Lingkungan menjadi wadah yang memungkinkan seseorang merasakan pengalaman pribadi dengan pengetahuan baru.

Misalnya, seseorang belajar tentang nilai gotong royong bukan hanya dari pelajaran di sekolah, melainkan dari pengalaman langsung bekerja sama dengan masyarakat. Dari situlah muncul kesadaran sosial dan empati. Dengan demikian, tempat belajar dan pengalaman sosial tidak dapat dipisahkan keduanya membentuk satu kesatuan dalam proses pendidikan yang sejati. Bagan di bawah ini menunjukkan keterkaitan antara tempat, pengalaman, dan interaksi sosial dalam proses belajar manusia:


Tabel 2.2 keterkaitan antara tempat, pengalaman, dan interaksi sosial dalam proses belajar manusia

Sumber: Data diolah oleh penulis

Dari bagan tersebut dapat dipahami bahwa proses belajar merupakan siklus yang terus berlangsung. Tempat memberi ruang, pengalaman memberi makna, dan interaksi sosial menumbuhkan reflektif. Ketiganya membentuk fondasi pendidikan yang sejati, yaitu pendidikan yang mengubah manusia secara utuh baik secara intelektual, emosional, maupun moral.


 

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Pendidikan tidak hanya bergantung pada guru formal, tetapi juga melibatkan diri sendiri, lingkungan, dan pengalaman hidup sebagai pengajar yang membentuk manusia secara utuh. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidik adalah mereka yang membimbing kekuatan batin dan pikiran peserta didik menuju kebahagiaan hidup, sedangkan John Dewey menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses pengalaman yang berlangsung di mana pun manusia berinteraksi. Hal ini menunjukkan bahwa belajar dapat terjadi di rumah, alam, maupun lingkungan sosial.

Selain itu, Paulo Freire berpendapat bahwa pengalaman dan peristiwa hidup dapat menjadi guru yang membentuk kesadaran kritis manusia.³ Proses belajar bersifat timbal balik dan berlangsung sepanjang hayat ( belajar seumur hidup ). Emile Durkheim menambahkan bahwa pendidikan berperan dalam membentuk nilai-nilai sosial agar manusia mampu hidup selaras dalam masyarakat. Maka dari itu, pendidikan merupakan hasil perpaduan antara guru, pengalaman, dan lingkungan yang menumbuhkan manusia menjadi pribadi yang bijaksana, berkarakter, dan berkesadaran.

3.2  Saran

Guru bermaksud untuk berpartisipasi sebagai pembimbing yang menumbuhkan kemandirian dan kesadaran belajar pada peserta didik. Peserta didik perlu aktif mencari pengetahuan dari berbagai pengalaman hidup, bukan hanya dari sekolah. Masyarakat juga diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung proses pendidikan agar nilai-nilai sosial, moral, dan kemanusiaan dapat tumbuh secara berkelanjutan


 

DAFTAR PUSTAKA

Dewantara, Ki Hadjar, ‘Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I: Pendidikan (Edisi II)’, Majelis Luhur PersatuanTaman Siswa, 1977

Dewey, John, ‘An Introduction of Reflektif Thinking, by Cilombia, University A Sicciety Dalam Edisi Muzayyin Arifin’, Filsafat Pendidikan Islam, 2003

——, Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education (Macmillan New York, 1930), viii

Freire, Paulo, Pendidikan Kaum Tertindas (LP3ES, 2018)

Mundiasari, Kiki, ‘Pola Hubungan Antar Manusia Sebagai Insan Pendidikan’, Aktualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 12.II (2022)

Ngongo, Verdinandus Lelu, Taufiq Hidayat, and Wiyanto Wiyanto, ‘Pendidikan Di Era Digital’, in Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 2019

Rogers, Carl, ‘Freedom to Learn. Columbus, Ohio’, Charles E. Merrill, 1969

Shihab, M Quraish, ‘Wawasan Al-Quran (Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat),(Band-Ung: Mizan, 2006)’, Cet. XVII

Suwarjo, Ki, ‘Pendidikan Among Sistem’, Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2013

Tilaar, Henry Alexis Rudolf, Paradigma Baru Pendidikan Nasional (Rineka Cipta, 2000)

Vygotsky, L S, ‘Pikiran Dalam Masyarakat: Perkembangan Proses Psikologis Yang Lebih Tinggi’, Pers Universitas Harvard, 1978

 

 

 



[1] Kiki Mundiasari, ‘Pola Hubungan Antar Manusia Sebagai Insan Pendidikan’, Aktualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 12.II (2022).

[2] John Dewey, Democracy and Education: An Introduction to the Philosophy of Education (Macmillan New York, 1930), viii.

[3] Ki Hadjar Dewantara, ‘Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I: Pendidikan (Edisi II)’, Majelis Luhur PersatuanTaman Siswa, 1977.

[4] Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas (LP3ES, 2018).

[5] Verdinandus Lelu Ngongo, Taufiq Hidayat, and Wiyanto Wiyanto, ‘Pendidikan Di Era Digital’, in Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang, 2019.

[6] Henry Alexis Rudolf Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional (Rineka Cipta, 2000).

[7] Freire, Pendidikan Kaum Tertindas.

[8] Ki Suwarjo, ‘Pendidikan Among Sistem’, Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2013.

[9] Carl Rogers, ‘Freedom to Learn. Columbus, Ohio’, Charles E. Merrill, 1969.

[10] John Dewey, ‘An Introduction of Reflektif Thinking, by Cilombia, University A Sicciety Dalam Edisi Muzayyin Arifin’, Filsafat Pendidikan Islam, 2003.

[11] Dewantara, ‘Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I: Pendidikan (Edisi II)’.

[12] Freire, Pendidikan Kaum Tertindas.

[13] M Quraish Shihab, ‘Wawasan Al-Quran (Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat),(Band-Ung: Mizan, 2006)’, Cet. XVII.

[14] L S Vygotsky, ‘Pikiran Dalam Masyarakat: Perkembangan Proses Psikologis Yang Lebih Tinggi’, Pers Universitas Harvard, 1978.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar