MAKALAH
QUA VADIS KAUM TERDIDIK
PANGGILAN MORAL ATAU KEBUTUHAN FINANSIAL
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN
Dosen Pengampu:
Dr.M.Dzikrul Hakim,M.Pd.I

Disusun
oleh kelompok 9:
Sandi ahmad awaludin
(2501021043)
M. Dawud ikhsan (2501021047)
PROGRAM
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS KH.A.WAHAB HASBULLAH
JOMBANG
TAMBAK BERAS
TAHUN 2025/2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur ata kehadirat allah SWT berkat
nikmat,hidayah serta inayahNya kami bisa melaksanakan tugas pembuatan makalah
yang bertemakan “ARAH,TUJUAN,DAN
KONDISI MASA DEPAN KAUM TERDIDIK.”. Lalu sholawat beserta salam tetap tercurah limpahkan pada junjungan
kita yakni Nabi Muhammad SAW berkatnya kita selaku ummat manusia bisa
menjalankan hidup dengan penuh tuntunan dan arah yang membawa pada hakikatNya.
Makalah ini disusun dengan besar harapan kami, agar supaya pembaca bisa
mengambil pelajaran.Terkhususnya pada kami sendiri, lebih-lebih pada banyak
orang dan tentunya bisa menjadikan orang lebih beriman dan bertaqwa kepada
allah SWT.
Akan tetapi, pasti makalah ini memiliki banyak kekurangan walaupun kami
sebagai penulis telah berusaha semaksimal mungkin.Kami berharap pembaca bisa
memaklumi dengan kekurangan-kekurangan yang ada maupun kelebihannya dapat
dibuat pelajaran oleh kita semua.
Jombang,27 november 2025
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan sangat
penting dalam kehidupan kita dan juga sangat berpengaruh untuk masa depan kita.
Secara umum, pendidikan adalah proses mengembangkan potensi diri secara penuh,
yang diperlukan untuk kelangsungan hidup dan kesuksesan di masa depan. Bagi
kita pendidikan sangatlah penting agar menjadi insan yang terdidik. Pendidikan,
dalam arti luasnya, merupakan kekuatan pendorong dan pendamping terus-menerus
bagi kemajuan dan evolusi kehidupan manusia. Suatu bangsa dan rakyatnya hanya
dapat menjamin masa depan masyarakat, bangsa, dan negaranya dengan berinvestasi
pada generasi mudanya melalui pendidikan (Elihami & Syahid, 2018). Kualitas
sumber daya manusia Indonesia, baik masa kini maupun masa depan, diharapkan
dapat ditingkatkan melalui prestasi pendidikan setiap warga negara (Sirait,
2016).
Belajar berarti mengubah perilaku seseorang sebagai akibat dari
pengalaman dengan lingkungannya. Interaksi ini berlangsung secara di sengaja,
pembelajaran berpusat pada tujuan yang hendak dicapai berlandaskan perencanaan.
Proses pembelajaran yang terjadi membuat seseorang atau sekelompok orang
(peserta didik) melangsungkan proses belajar sesuai dengan agenda pengajaran yang
telah di programkan. Kegiatan pembelajaran menyertakan beberapa komponen yakni
guru, peserta didik, tujuan, isi pembelajaran, media, mode, dan evaluasi.
Kapasitas intelektual, emosional, dan spiritual seseorang, serta ketahanannya
dalam menghadapi segala aspek situasi kehidupan, semuanya dapat berkontribusi
terhadap keberhasilan pembelajaran, seiring dengan penggunaan instrumen tes
atau instrumen yang relevan (Luh &Ekayani,2021)
B. Rumusan Masalah
1. Apa sebenarnya tujuan dari kaum terdidik
2. Bagaimana arah kaum terdidik
3. Bagaimana kondisi masa depan kaum terdidik
C. Tujuan Pembahasan
1. Menganalisis kaum terdidik terutama yang
ada diindonesia
2. Mengetahui arah dan tujuan kaum terdidik
3. Mencari tahu lebih lanjut sebenarnya apa
yang paling dicari kaum terdidik
4. Mengetahui tentang kondisi kaum terdidik
5. Mengetahui masalah-masalah yang terjadi
pada kaum terdidik
BAB II
PEMBAHASAN
A. Qua Vadis kaum terdidik
1. Moral Kaum Terdidik
Pembangunan
moral pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat
manusia. Pembangunan moral pada akhirnya akan dapat meningkatkan keberdayaan
dan kemandirian masyarakat jika semua stake-holder pembangunan memiliki
nilai-nilai intrinsik yang tinggi[1].
Pembangunan yang dilakukan dengan landasan moral luck dan moral relativitism
akan menggerogoti dan akhirnya meruntuhkan masyarakat dan negara itu sendiri.
Demikian pula pembangunan masyarakat Indonesia perlu ditinjau kembali
berdasarkan kearifan global dan lokal dalam hidup berbagai aspek kehidupan.
Pertama-tama harus dimulai dari dalam diri (keluarga) kaum terdidik yang duduk
di birokrasi/eksekutif, legistatif, yudikatif, perguruan tinggi, lembaga
keagamaan, lembaga bisnis, dan para praktisi (LSM). Reorientasi moral dari
moral luck, moral relativitism dan moral scepticism ke moral rational; dan
moral realism mutlak diperlukan untuk membangun Indonesia Baru. Kaum terdidik
sebagai bagian dari komunitas sosial perlu mempertimbangkan atau melakukan
akuntabilitas publik terhadap profesinya, karena kehidupan kaum terdidik ibarat
pelita yang terletak di atas sebuah gunung yang dapat menerangi keremangan dan
kegelapan kehidupan, dan ibarat garam yang dapat memberikan cita rasa terhadap
kebusukan dan kelestarian Bangsa Indonesia.
2. Reaktualisasi Modal Manusia/Kebutuhan
Finansial Manusia
Reorientasi moral kaum terdidik belumlah
cukup, tetapi masih harus diperkaya dan dikembangkan dengan investasi
sumberdaya manusia yang memiliki peran strategis dalam membangun Indonesia
dimasa kini dan mendatang. Reaktualisasi modal sosial (social capital),
seperti: kejujuran, kepercayaan, kesediaan dan kemampuan untuk
bekerjasama-berkoordinasi, penjadwalan waktu dengan tepat, kebiasaan untuk
berkontribusi dalam upaya pembangunan merupakan hal yang fundamental dalam
melengkapi kesucian hati nurani. Hal ini perlu dilakukan mengingat pembangunan
yang dilaksanakan selama ini lebih mengutamakan aspek ekonomi, yang akhirnya
memunculkan sejumlah masalah dan bencana nasional, seperti: ketimpangan sosial,
disparitas pendapatan yang mencolok, ketidakadilan, ketidakmerataan hasil
pembangunan, kemiskinan, ketergantungan, ketertinggalan dan sebagainya.
Disinilah letaknya bias program pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian
diperlukan sikap kearifan lokal dalam membangun manusia di daerah masih-masing
sesuai spesifik lokasinya. Pembangunan ekonomi yang dilakukan seiring dengan pembangunan modal sosial pelaksana dan
penerima manfaat pembangunan akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembangunan itu sendiri.
Seorang dosen lulusan program magister (S-2)
dan program doktor (S-3) di Jepang pernah berceritera di depan kelas, dan
setelahnya mengajukan satu pertanyaan kepada para mahasiswa program magister.
Pertanyaannya sederhana: “apakah yang menyebabkan negara Jepang itu maju”?
jawabannya singkat, yaitu: karena mereka memiliki “kejujuran” pada hati
nuraninya alias mereka memiliki modal sosial yang tinggi. Jika mereka kedapatan
melakukan suatu kesalahan dalam pemerintahan maka mereka dengan berjiwa besar
untuk mengundurkan diri. Berbeda sekali dengan di Indonesia, bangga kalau
korupsi, bangga pamer harta hasil korupsi, bangga kalau menceriterakan jumlah
persenan yang diterima dari hasil kolusi proyek-proyek, padahal sebelum jadi
pimpro atau pimpinan biasa saja.
Mencermati
realitas pendidikan Indonesia, maka diperlukan perhatian kebijakan pemerintah
terhadap pengakuan kaum terdidik, khususnya mengenai kesejahteraan, peningkatan
dana pendidikan, dan khususnya diperlukan transformasi dalam sistem pendidikan
formal dari yang bersifat pragmatis ke arah filsafat aliran neoposivitisme,
yaitu dari aspek filsafat dan pendidikan, seperti dirangkum oleh Mudyahardjo
(2001)[2],
sebagai berikut:
1.
Aspek Filsafat
a. Metafisika Kenyataan yang sebenarnya adalah
kenyataan yang diungkap oleh ilmu-ilmu kealaman. Bentuk kenyataan yang
sebenarnya adalah sebuah jaringan hubungan sebab-akibat yang berlangsung dalam
waktu dan tempat atau spatio temporal-causal network.
b. Humanologi Manusia merupakan satu kesatuan
jiwa dan tubuh (monistik). Manusia adalah homo sapiens sehinga merupakan: (a)
animal symbolicum, yaitu binatang yang memiliki bahasa yang mempunyai
aturan-aturan sintaksis, semantis dan pragmatik, dan, (b) animal rationale,
yaitu mempunyai kemampuan berpikir
ilmiah atau berpikir tersusun sistematis, dan berpikir reflektif kritis atau
memperkirakan dasar pemikiran.
c . Epistemologi Sumber pengetahuan adalah
penginderaan. Penginderaan hanya dapat menangkap peristiwa-peristiwa tinggal
dan material. Pengetahuan merupakan hasil pengolahan dengan menggunakan logika
induktif terhadap fakta hasil penginderaan. Logika tersusun dari aturan-aturan
sintaksis. Pernyataan tidak selamanya mempunyai makna. Sebuah pernyataan
mempunyai makna apabila: (a) dapat dibuktikan kebenarannya secara
intersubjektif atau pembuktian mudah dilakukan sekurang-kurangnya dua orang,
dan (b) berdasarkan hukum-hukum sintaksis bahasa atau hukum-hukum penyusunan
bentuk kalimat.
d. Aksiologi Tidak mengakui nilai absolut tetapi
menolak pula nilai yang bersifat subjektif seperti yang berlaku dalam nilai
estetis. Nilai yang ada adalah nilai yang bersifat bio-psikologis ekonomik
historis. Dasar tingkah laku moral adalah pengetahuan ilmiah serta cinta dan
simpati manusia. Pertimbangan pertimbangan moral yang tertanam dalam diri
pribadi melalui proses pendidikan dan sosialisasi menjadi dasar kemauan bebas
dalam menentukan pilihan norma-norma yang tertanam dalam kebiasaan-kebiasaan
berfungsi motivatif bersifat mewajibkan.
2.
Aspek Pendidikan
a. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan bersifat sosial atau tak
langsung adalah membentuk sebuah masyarakat yang demokratis dan sebuah
pemerintahan dunia yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral humanisme ilmiah,
moral yang bersifat biopsiko-sosiochonomik sehingga mengacu pada
kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan dan gagasan-gagasan manusia yang
tumbuh dalam peradaban manusia. Tujuan-tujuan pendidikan yang bersifat
individual adalah mengembangkan kepribadian yang didalamnya membantu
pertumbuhan intelektual dan moral. Pertumbuhan intelektual tertuju untuk
mencapai kematangan berpikir yang mencerminkan kebajikan-kebajikan utama dalam
kemampuan ilmiah yang mempunyai ciri: (a) berpikir jernih, (b) penyimpulan yang
mantap dan tepat, (c) mempunyai kesesuaian faktual dan reabilitas, (d)
objektivitas, (e) rasionalitas dalam bertingkah laku, (f) rasionalitas moral,
yaitu: setia pada prinsip keadilan, kesamaan dan bebas dari paksaan dan
kekerasan. Perkembangan moral
bertujuan agar individu memiliki: sikap ilmiah, sikap humanis, sikap sosial
berdasarkan rasa cinta kepada sesama manusia.
b.
Kurikulum Pendidikan
Mengutamakan
pendidikan intelektual (ilmu-ilmu kealaman, sosial, dan pendidikan teknologi,
matematika, pendidikan bahasa) dan pendidikan moral. Pendidikan moral untuk mengembangkan
kebajikan: (a) sikap berusaha mencapai kesempurnaan diri, (b) sikap adil, (c)
sikap jujur, tidak memihak, (d) sikap mengakui kesamaan antara sesama manusia.
c.
Metode pendidikan
Pengajaran ilmu dipraktekkan sebagai seni.
Pengajaran ilmu untuk hal-hal pokok diajarkan melalui eksperimen/latihan
intelektual. Pendidikan moral diajarkan melalui pembiasaan moral berdasarkan
prinsip otonomi fungsional, dengan cara atau proses, yaitu: (a) seseorang
menerima nilai-nilai dari luar melalui belajar dari ilmu dan/atau yang
diperkenalkan orang lain melalui teladan dan/atau perintah. Nilai-nilai ini
merupakan nilai pinjaman yang bersifat instrumental atau dapat dipakai sebagai
alat penolong sementara dalam mempertimbangkan apakah suatu tindakan akan
dilakukan atau tidak, dan (b) melalui penggunaan nilai-nilai pinjaman yang
bersifat sementara berangsur-angsur menjadi nilai-nilai yang diakui sebagai
milik sendiri yang mantap tertanam menjadi dasar pertimbangan moral sesuatu
tindakan.
d. Peranan peserta didik dan pendidik
Peserta didik kurang dilengkapi dengan
instink, tetapi mempunyai kemampuan terpendam yang memungkinkan dirinya untuk
berpikir pada tingkatan yang tertinggi. Peserta didik tidak hanya pasif
menerima bantuan, tetapi aktif melakukan latihan dan peniruan. Para pendidik
bertugas: (a) melatih intelektual dan vokasional, (b) menyajikan informasi
secara sistematis, (c) membimbing. Dalam pendidikan moral sebagai pembentukan
kesadaran moral atau pembentukan superego, pendidik berperan sebagai: (a) memberi
ganjaran, dan (b) memberi hukuman.
B. Keadaan/Kondisi Kaum Terdidik
Tidak hanya dibidang ekonomi,dibidang
pendidikan pun Indomesia menjadi negara yang menempati rangking bawah dunia.
Sudah bertahun-tahun indonesia mengalami keterpurukan ini. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah belum mampu sepenuhnya memperbaiki kondisi
tersebut.
Yang dapat kita lihat dan kita rasakan
adalah pergeseran nilai-nilai moral khususnya dalam dunia pendidikan Indonesia
zaman dahulu dengan zaman sekarang. Seperti yang kita ketahui bahwa penerapan
nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari masyarakat zaman dahulu khususnya
masyarakat pendidikan sangatlah kental sekali. Sikap patuh, taat, sopan santun,
saling menghormati serta menghargai menjadi bagian dari hidup mereka.Para siswa
akan saling berebut untuk membawakan koper dan sepeda guru mereka sesampainya
di pintu gerbang sekolah, mengucap salam bila bertemu guru dan orang tua,
menundukkan kepala pada saat dimarahi orang tua, membungkukkan badan pada saat
melewati atau melintasi orang tua.Sayang semua kebiasaan-kebiasaan itu sudah
tidak dapat kita temui lagi sekarang.Yang dapat kita lihat dalam potret pendidikan
di Indonesia adalah anarkhisme, premanisme, seks bebas, dan narkoba. Rasanya
tidak akan habis jika kita membicarakan anarkhisme dan premanisme dalam
pendidikan di Indonesia. Masih hangat di benak kita betapa banyaknya aksi
tawuran yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa hanya karena masalah sepele.
Sungguh sangat tidak pantas apabila hal tersebut dilakukan oleh mereka yang
notabene adalah kaum intelektual bangsa yang nantinya akan menjadi penerus
bangsa dan membawa Indonesia menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Betapa
murkanya mereka pada saat melakukan aksi brutal itu saling pukul, saling
tendang, dan saling lempar benda keras. Tidak hanya itu saja praktek kekerasan
juga terjadi di dalam lembaga pendidikan yang bernaung di bawah nama negara
yang di dalamnya meruoakan orang-orang pilihan. Keberadaan geng pelajar wanita
pun menambah suram potret pendidikan di Indonesia. Seperti halnya anak
laki-laki geng yang terdiri dari pelajar wanita inipun tidak segan-segan
melakukan tindakan kekerasan dan brutal terhadap siapapun.Tidak sampai di situ
saja tindakan pelecehan seksual juga turut meramaikan pendidikan Indonesia.
Banyak sekali remaja Indonesia yang masih dalam bangku sekolah dan kuliah
terjebak dalam seks bebas. Seperti yang kita ketahui bahwa seks bebas memiliki
dampak yang buruk bagi pelakunya, penularan virus HIV AIDS adalah salah
satunya, Ironinya tidak dari kalangan pelajar saja yang melakukan tindakan hina
tersebut oknum guru pun yang seharusnya menjadi orang tua, pelindung, oengajar,
sekaligus pendidik tega melakukan hal tersebut terhadap muridnya. Sungguh apap
yang ada di otak guru tersebut. Dan yang marak sekarang ini adalah narkoba.
Tidak sedikit pelajar Indoneia yang sudah terkena narkoba. tentunya dengan
beraneka macam alasan, kulai dari pengaruh teman, ingin coba-coba, ingin
mencari jati diri, sampai ingin menghilangkan stres karena suatu masalah yang
menurutnya tidak dapat diselesaikan.Tak khayal demi mendapatkan barang haram
tersebut mereka rela menghalalkan segala cara sampai membohongi orang tua
mereka. Semua tersebar di atas adalah sekilas tentang potret pendidikan di Indonesia
sekarang.Sangat ironi sekali bukankah yang harusnya mereka lakukan adalah
belajar dengan tekun untuk dapat mencetak prestasi sebanyak mungkin yang
membanggakan dan membawa nama baik Indonesia serta membawa perubahan yang baik
bagi Indonesia. Saya rasa tidak ada kata terlambat untuk menuju kebaikan. Semua
hal tersebut dapat diatasi dengan peran orang tua dan guru serta lingkungan
pergaulan yang baik. Namun kesadarandan rasa tanggung jawab yang tinggi dari
diri kita adalah hal yang terpenting.Latar belakang pendidikan tinggi tidak
menjadi suatu jaminan bagi seseorang memiliki sikap dan pribadi yang
mencerminkan orang terdidik. Para pejabat negara yang melakukan korupsi adalah
contohnya. Bukan hamya pendidikan akademik saja yang perlu diajarkan,
pendidikan moralpun tidak kalah penting.
Betapa pentingnya menjadi seorang yang
terdidik karena orang -orang itulah yang perlukan bagi bangsa kita.Sungguh Indonesia
akan menjadi negar yang aman, damai, dan tenteram karena tidak ada aksi
anarkhisme, premanisme, terorisme, dan kriminalitas. Indonesia juga akan
menjadi negara yang kaya, makmur, dan sejahtera karena SA yang terjaga dan
tekelola dengan baik. Dan yangtidak kalah penting adalah SDM yang berkualitas
dan mampu bersaing dengan negara lain.
Dengan menjadi orang yang terdidik
kita akan memiliki pandangan hidup yang luas, bisa menempatkan diri sesuai
dengan posisi, tidak gegabah dalam mengambil keputusam, bertindak sesuai prosedur,
dan dapat saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Untuk itu
pendidikan perlu kita tanamkan sejak dini kepada anak-anak kita sebagai bekal
untuk kehidupan mereka kelak nanti.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
- Tujuan kaum terdidik tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan finansial, tetapi juga untuk menjawab panggilan moral. Kaum terdidik diibaratkan sebagai pelita yang menerangi kegelapan dan garam yang memberi cita rasa bagi bangsa. Karena itu, mereka dituntut untuk memiliki akuntabilitas publik terhadap profesinya serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
- Arah kaum terdidik perlu diluruskan melalui reorientasi moral, yaitu dari moral luck, moral relativism, dan moral scepticism menuju moral rasional dan moral realism. Reorientasi ini harus diperkuat dengan reaktualisasi modal sosial, seperti kejujuran, kepercayaan, kemampuan bekerja sama, dan kedisiplinan. Pembangunan yang hanya mengutamakan aspek ekonomi terbukti menimbulkan ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan kemiskinan. Pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan pembangunan moral dan modal sosial.
- Kondisi kaum terdidik saat ini masih memprihatinkan. Terjadi pergeseran nilai moral dalam dunia pendidikan, yang tampak dari maraknya tawuran, kekerasan, pelecehan seksual, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan korupsi oleh pejabat berpendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya latar belakang pendidikan tidak otomatis menjamin kualitas pribadi dan moral seseorang.
- Kondisi masa depan kaum terdidik dapat menjadi lebih baik apabila pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan akademik, tetapi juga pendidikan moral. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang memperhatikan kesejahteraan dan pendanaan pendidikan, peran orang tua, guru, dan lingkungan pergaulan yang baik, serta kesadaran dan tanggung jawab pribadi, kaum terdidik dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang aman, damai, dan sejahtera.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “Qua Vadis Kaum Terdidik” adalah bahwa kaum terdidik seharusnya berjalan menuju keseimbangan antara panggilan moral dan kebutuhan finansial, dengan moralitas sebagai landasan utama dan kesejahteraan sebagai sarana pendukung, bukan sebaliknya.
C B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:
- Bagi kaum terdidik, hendaknya menjadikan moral dan kejujuran sebagai landasan utama dalam menjalankan profesi, serta tidak menjadikan jabatan dan keuntungan finansial sebagai tujuan satu-satunya. Kaum terdidik perlu menjaga akuntabilitas publik dan berani bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.
- Bagi lembaga pendidikan, perlu menyeimbangkan pendidikan akademik dengan pendidikan moral. Kurikulum sebaiknya tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan sopan santun melalui pembiasaan dan keteladanan dari para pendidik.
- Bagi pendidik dan orang tua, diharapkan dapat menjadi teladan yang baik serta memberikan pengawasan dan bimbingan kepada peserta didik, terutama dalam menghadapi pengaruh pergaulan yang negatif seperti tawuran, kekerasan, seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba.
- Bagi pemerintah, perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan tenaga pendidik, peningkatan dana pendidikan, serta kebijakan yang menjamin pemerataan kualitas pendidikan. Pengawasan terhadap praktik korupsi di lingkungan pejabat berpendidikan tinggi juga perlu diperketat.
- Bagi peserta didik dan mahasiswa, hendaknya belajar dengan tekun, menjauhi perilaku yang merusak diri dan lingkungan, serta menyadari bahwa pendidikan adalah bekal untuk memberikan kontribusi positif bagi bangsa.
- Bagi penulis selanjutnya, makalah ini masih memiliki keterbatasan, sehingga diharapkan kajian berikutnya dapat membahas topik ini lebih mendalam dengan dukungan data empiris dan referensi yang lebih beragam.
DAFTAR
PUSTAKA
Kartasasmita, G., 1996. Pembangunan
Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan
dan Pemerataan. Cides. Jakarta.
Kompas, Tanggal 5 dan 17 September
2001.
Kompas, Tanggal 8 dan 14 Oktober 2001.
Letug, T., 2001. Guru, Doktor dan
Profesor. Dipetik Dari Internet Tanggal
28
September 2001
Mudyahardjo, R., 2001. Filsafat Ilmu
Pendidikan. Suatu Pengantar.PT. Remaja
Rosdakarya. Bandung
Nurudin, 2001. Komunikasi Propaganda. PT. Remaja Rosdakarya.
Bandung
Suseno, F. M., 1992. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Kanisius.
Yogyakarta.
Suriasumantri, J. S., 2000. Filsafat
Ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar
harapan. Jakarta.
Sobary, M., 2001. Zaman Sontoloyo.
Harian Kompas. Tanggal 2 September 2001.
Taruma, T. Kompas Tanggal 22
September 2001.
Tilaar, H.A.R., 1997. Pengembangan Sumberdaya Manusia Dalam Era
Globalisasi.
Visi, Misi, dan program Aksi
Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020.
Grasindo. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar