Sabtu, 24 Oktober 2026

MAKALAH QUA VADIS KAUM TERDIDIK PANGGILAN MORAL ATAU KEBUTUHAN FINANSIAL

 

MAKALAH

QUA VADIS KAUM TERDIDIK

PANGGILAN MORAL ATAU KEBUTUHAN  FINANSIAL      




DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN

                                                            Dosen Pengampu:

                                                  Dr.M.Dzikrul Hakim,M.Pd.I

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                  

                                                        Disusun oleh kelompok 9:

                                              Sandi ahmad awaludin     (2501021043)

                                              M. Dawud ikhsan             (2501021047)

                         

 

 

                             PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA ARAB

                                      FAKULTAS AGAMA ISLAM

                        UNIVERSITAS KH.A.WAHAB HASBULLAH

                                     JOMBANG TAMBAK BERAS

                                               TAHUN 2025/2026

 

                            

                                KATA PENGANTAR

           

 

 

       Puji syukur ata kehadirat allah SWT berkat nikmat,hidayah serta inayahNya kami bisa melaksanakan tugas pembuatan makalah yang bertemakan “ARAH,TUJUAN,DAN KONDISI MASA DEPAN KAUM TERDIDIK.”. Lalu sholawat beserta salam tetap tercurah limpahkan pada junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW berkatnya kita selaku ummat manusia bisa menjalankan hidup dengan penuh tuntunan dan arah yang membawa pada hakikatNya.

        Makalah ini disusun dengan besar harapan kami, agar supaya pembaca bisa mengambil pelajaran.Terkhususnya pada kami sendiri, lebih-lebih pada banyak orang dan tentunya bisa menjadikan orang lebih beriman dan bertaqwa kepada allah SWT.

         Akan tetapi, pasti makalah ini memiliki banyak kekurangan walaupun kami sebagai penulis telah berusaha semaksimal mungkin.Kami berharap pembaca bisa memaklumi dengan kekurangan-kekurangan yang ada maupun kelebihannya dapat dibuat pelajaran oleh kita semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                       

                                                                       Jombang,27 november 2025

                                          

                                                       

                                                          BAB I

                                                 PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

      Pendidikan sangat penting dalam kehidupan kita dan juga sangat berpengaruh untuk masa depan kita. Secara umum, pendidikan adalah proses mengembangkan potensi diri secara penuh, yang diperlukan untuk kelangsungan hidup dan kesuksesan di masa depan. Bagi kita pendidikan sangatlah penting agar menjadi insan yang terdidik. Pendidikan, dalam arti luasnya, merupakan kekuatan pendorong dan pendamping terus-menerus bagi kemajuan dan evolusi kehidupan manusia. Suatu bangsa dan rakyatnya hanya dapat menjamin masa depan masyarakat, bangsa, dan negaranya dengan berinvestasi pada generasi mudanya melalui pendidikan (Elihami & Syahid, 2018). Kualitas sumber daya manusia Indonesia, baik masa kini maupun masa depan, diharapkan dapat ditingkatkan melalui prestasi pendidikan setiap warga negara (Sirait, 2016).

       Belajar berarti mengubah perilaku seseorang sebagai akibat dari pengalaman dengan lingkungannya. Interaksi ini berlangsung secara di sengaja, pembelajaran berpusat pada tujuan yang hendak dicapai berlandaskan perencanaan. Proses pembelajaran yang terjadi membuat seseorang atau sekelompok orang (peserta didik) melangsungkan proses belajar sesuai dengan agenda pengajaran yang telah di programkan. Kegiatan pembelajaran menyertakan beberapa komponen yakni guru, peserta didik, tujuan, isi pembelajaran, media, mode, dan evaluasi. Kapasitas intelektual, emosional, dan spiritual seseorang, serta ketahanannya dalam menghadapi segala aspek situasi kehidupan, semuanya dapat berkontribusi terhadap keberhasilan pembelajaran, seiring dengan penggunaan instrumen tes atau instrumen yang relevan (Luh &Ekayani,2021)

 

 

 

 

 

B.  Rumusan Masalah

1.    Apa sebenarnya tujuan dari kaum terdidik

2.    Bagaimana arah kaum terdidik

3.    Bagaimana kondisi masa depan kaum terdidik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.  Tujuan Pembahasan

1.    Menganalisis kaum terdidik terutama yang ada diindonesia

2.    Mengetahui arah dan tujuan kaum terdidik

3.    Mencari tahu lebih lanjut sebenarnya apa yang paling dicari kaum terdidik

4.    Mengetahui tentang kondisi kaum terdidik

5.    Mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada kaum terdidik

 

                                                         BAB II

                                                 PEMBAHASAN

A.  Qua Vadis kaum terdidik

1.    Moral Kaum Terdidik

 

       Pembangunan moral pada hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pembangunan moral pada akhirnya akan dapat meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat jika semua stake-holder pembangunan memiliki nilai-nilai intrinsik yang tinggi[1]. Pembangunan yang dilakukan dengan landasan moral luck dan moral relativitism akan menggerogoti dan akhirnya meruntuhkan masyarakat dan negara itu sendiri. Demikian pula pembangunan masyarakat Indonesia perlu ditinjau kembali berdasarkan kearifan global dan lokal dalam hidup berbagai aspek kehidupan. Pertama-tama harus dimulai dari dalam diri (keluarga) kaum terdidik yang duduk di birokrasi/eksekutif, legistatif, yudikatif, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, lembaga bisnis, dan para praktisi (LSM). Reorientasi moral dari moral luck, moral relativitism dan moral scepticism ke moral rational; dan moral realism mutlak diperlukan untuk membangun Indonesia Baru. Kaum terdidik sebagai bagian dari komunitas sosial perlu mempertimbangkan atau melakukan akuntabilitas publik terhadap profesinya, karena kehidupan kaum terdidik ibarat pelita yang terletak di atas sebuah gunung yang dapat menerangi keremangan dan kegelapan kehidupan, dan ibarat garam yang dapat memberikan cita rasa terhadap kebusukan dan kelestarian Bangsa Indonesia.

 

2.    Reaktualisasi Modal Manusia/Kebutuhan Finansial Manusia

      Reorientasi moral kaum terdidik belumlah cukup, tetapi masih harus diperkaya dan dikembangkan dengan investasi sumberdaya manusia yang memiliki peran strategis dalam membangun Indonesia dimasa kini dan mendatang. Reaktualisasi modal sosial (social capital), seperti: kejujuran, kepercayaan, kesediaan dan kemampuan untuk bekerjasama-berkoordinasi, penjadwalan waktu dengan tepat, kebiasaan untuk berkontribusi dalam upaya pembangunan merupakan hal yang fundamental dalam melengkapi kesucian hati nurani. Hal ini perlu dilakukan mengingat pembangunan yang dilaksanakan selama ini lebih mengutamakan aspek ekonomi, yang akhirnya memunculkan sejumlah masalah dan bencana nasional, seperti: ketimpangan sosial, disparitas pendapatan yang mencolok, ketidakadilan, ketidakmerataan hasil pembangunan, kemiskinan, ketergantungan, ketertinggalan dan sebagainya. Disinilah letaknya bias program pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian diperlukan sikap kearifan lokal dalam membangun manusia di daerah masih-masing sesuai spesifik lokasinya. Pembangunan ekonomi yang dilakukan seiring dengan pembangunan modal sosial pelaksana dan penerima manfaat pembangunan akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembangunan itu sendiri.

       Seorang dosen lulusan program magister (S-2) dan program doktor (S-3) di Jepang pernah berceritera di depan kelas, dan setelahnya mengajukan satu pertanyaan kepada para mahasiswa program magister. Pertanyaannya sederhana: “apakah yang menyebabkan negara Jepang itu maju”? jawabannya singkat, yaitu: karena mereka memiliki “kejujuran” pada hati nuraninya alias mereka memiliki modal sosial yang tinggi. Jika mereka kedapatan melakukan suatu kesalahan dalam pemerintahan maka mereka dengan berjiwa besar untuk mengundurkan diri. Berbeda sekali dengan di Indonesia, bangga kalau korupsi, bangga pamer harta hasil korupsi, bangga kalau menceriterakan jumlah persenan yang diterima dari hasil kolusi proyek-proyek, padahal sebelum jadi pimpro atau pimpinan biasa saja.

        Mencermati realitas pendidikan Indonesia, maka diperlukan perhatian kebijakan pemerintah terhadap pengakuan kaum terdidik, khususnya mengenai kesejahteraan, peningkatan dana pendidikan, dan khususnya diperlukan transformasi dalam sistem pendidikan formal dari yang bersifat pragmatis ke arah filsafat aliran neoposivitisme, yaitu dari aspek filsafat dan pendidikan, seperti dirangkum oleh Mudyahardjo (2001)[2], sebagai berikut:

1. Aspek Filsafat

 a.  Metafisika Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan yang diungkap oleh ilmu-ilmu kealaman. Bentuk kenyataan yang sebenarnya adalah sebuah jaringan hubungan sebab-akibat yang berlangsung dalam waktu dan tempat atau spatio temporal-causal network.

  b.  Humanologi Manusia merupakan satu kesatuan jiwa dan tubuh (monistik). Manusia adalah homo sapiens sehinga merupakan: (a) animal symbolicum, yaitu binatang yang memiliki bahasa yang mempunyai aturan-aturan sintaksis, semantis dan pragmatik, dan, (b) animal rationale, yaitu mempunyai kemampuan berpikir ilmiah atau berpikir tersusun sistematis, dan berpikir reflektif kritis atau memperkirakan dasar pemikiran.

  c . Epistemologi Sumber pengetahuan adalah penginderaan. Penginderaan hanya dapat menangkap peristiwa-peristiwa tinggal dan material. Pengetahuan merupakan hasil pengolahan dengan menggunakan logika induktif terhadap fakta hasil penginderaan. Logika tersusun dari aturan-aturan sintaksis. Pernyataan tidak selamanya mempunyai makna. Sebuah pernyataan mempunyai makna apabila: (a) dapat dibuktikan kebenarannya secara intersubjektif atau pembuktian mudah dilakukan sekurang-kurangnya dua orang, dan (b) berdasarkan hukum-hukum sintaksis bahasa atau hukum-hukum penyusunan bentuk kalimat.

  d.  Aksiologi Tidak mengakui nilai absolut tetapi menolak pula nilai yang bersifat subjektif seperti yang berlaku dalam nilai estetis. Nilai yang ada adalah nilai yang bersifat bio-psikologis ekonomik historis. Dasar tingkah laku moral adalah pengetahuan ilmiah serta cinta dan simpati manusia. Pertimbangan pertimbangan moral yang tertanam dalam diri pribadi melalui proses pendidikan dan sosialisasi menjadi dasar kemauan bebas dalam menentukan pilihan norma-norma yang tertanam dalam kebiasaan-kebiasaan berfungsi motivatif bersifat mewajibkan.

2. Aspek Pendidikan

  a.  Tujuan pendidikan

 Tujuan pendidikan bersifat sosial atau tak langsung adalah membentuk sebuah masyarakat yang demokratis dan sebuah pemerintahan dunia yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral humanisme ilmiah, moral yang bersifat biopsiko-sosiochonomik sehingga mengacu pada kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan dan gagasan-gagasan manusia yang tumbuh dalam peradaban manusia. Tujuan-tujuan pendidikan yang bersifat individual adalah mengembangkan kepribadian yang didalamnya membantu pertumbuhan intelektual dan moral. Pertumbuhan intelektual tertuju untuk mencapai kematangan berpikir yang mencerminkan kebajikan-kebajikan utama dalam kemampuan ilmiah yang mempunyai ciri: (a) berpikir jernih, (b) penyimpulan yang mantap dan tepat, (c) mempunyai kesesuaian faktual dan reabilitas, (d) objektivitas, (e) rasionalitas dalam bertingkah laku, (f) rasionalitas moral, yaitu: setia pada prinsip keadilan, kesamaan dan bebas dari paksaan dan kekerasan. Perkembangan moral bertujuan agar individu memiliki: sikap ilmiah, sikap humanis, sikap sosial berdasarkan rasa cinta kepada sesama manusia.

b. Kurikulum Pendidikan

Mengutamakan pendidikan intelektual (ilmu-ilmu kealaman, sosial, dan pendidikan teknologi, matematika, pendidikan bahasa) dan pendidikan moral. Pendidikan moral untuk mengembangkan kebajikan: (a) sikap berusaha mencapai kesempurnaan diri, (b) sikap adil, (c) sikap jujur, tidak memihak, (d) sikap mengakui kesamaan antara sesama manusia.

c.  Metode pendidikan

 Pengajaran ilmu dipraktekkan sebagai seni. Pengajaran ilmu untuk hal-hal pokok diajarkan melalui eksperimen/latihan intelektual. Pendidikan moral diajarkan melalui pembiasaan moral berdasarkan prinsip otonomi fungsional, dengan cara atau proses, yaitu: (a) seseorang menerima nilai-nilai dari luar melalui belajar dari ilmu dan/atau yang diperkenalkan orang lain melalui teladan dan/atau perintah. Nilai-nilai ini merupakan nilai pinjaman yang bersifat instrumental atau dapat dipakai sebagai alat penolong sementara dalam mempertimbangkan apakah suatu tindakan akan dilakukan atau tidak, dan (b) melalui penggunaan nilai-nilai pinjaman yang bersifat sementara berangsur-angsur menjadi nilai-nilai yang diakui sebagai milik sendiri yang mantap tertanam menjadi dasar pertimbangan moral sesuatu tindakan.

 d. Peranan peserta didik dan pendidik

 Peserta didik kurang dilengkapi dengan instink, tetapi mempunyai kemampuan terpendam yang memungkinkan dirinya untuk berpikir pada tingkatan yang tertinggi. Peserta didik tidak hanya pasif menerima bantuan, tetapi aktif melakukan latihan dan peniruan. Para pendidik bertugas: (a) melatih intelektual dan vokasional, (b) menyajikan informasi secara sistematis, (c) membimbing. Dalam pendidikan moral sebagai pembentukan kesadaran moral atau pembentukan superego, pendidik berperan sebagai: (a) memberi ganjaran, dan (b) memberi hukuman.

 

 

B.  Keadaan/Kondisi Kaum Terdidik

 

     Tidak hanya dibidang ekonomi,dibidang pendidikan pun Indomesia menjadi negara yang menempati rangking bawah dunia. Sudah bertahun-tahun indonesia mengalami keterpurukan ini.  Kebijakan-kebijakan  yang  diambil  pemerintah  belum mampu sepenuhnya memperbaiki kondisi tersebut.
     

      Yang dapat kita lihat dan kita rasakan adalah pergeseran nilai-nilai moral khususnya dalam dunia pendidikan Indonesia zaman dahulu dengan zaman sekarang. Seperti yang kita ketahui bahwa penerapan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari masyarakat zaman dahulu khususnya masyarakat pendidikan sangatlah kental sekali. Sikap patuh, taat, sopan santun, saling menghormati serta menghargai menjadi bagian dari hidup mereka.Para siswa akan saling berebut untuk membawakan koper dan sepeda guru mereka sesampainya di pintu gerbang sekolah, mengucap salam bila bertemu guru dan orang tua, menundukkan kepala pada saat dimarahi orang tua, membungkukkan badan pada saat melewati atau melintasi orang tua.Sayang semua kebiasaan-kebiasaan itu sudah tidak dapat kita temui lagi sekarang.Yang dapat kita lihat dalam potret pendidikan di Indonesia adalah anarkhisme, premanisme, seks bebas, dan narkoba. Rasanya tidak akan habis jika kita membicarakan anarkhisme dan premanisme dalam pendidikan di Indonesia. Masih hangat di benak kita betapa banyaknya aksi tawuran yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa hanya karena masalah sepele. Sungguh sangat tidak pantas apabila hal tersebut dilakukan oleh mereka yang notabene adalah kaum intelektual bangsa yang nantinya akan menjadi penerus bangsa dan membawa Indonesia menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Betapa murkanya mereka pada saat melakukan aksi brutal itu saling pukul, saling tendang, dan saling lempar benda keras. Tidak hanya itu saja praktek kekerasan juga terjadi di dalam lembaga pendidikan yang bernaung di bawah nama negara yang di dalamnya meruoakan orang-orang pilihan. Keberadaan geng pelajar wanita pun menambah suram potret pendidikan di Indonesia. Seperti halnya anak laki-laki geng yang terdiri dari pelajar wanita inipun tidak segan-segan melakukan tindakan kekerasan dan brutal terhadap siapapun.Tidak sampai di situ saja tindakan pelecehan seksual juga turut meramaikan pendidikan Indonesia. Banyak sekali remaja Indonesia yang masih dalam bangku sekolah dan kuliah terjebak dalam seks bebas. Seperti yang kita ketahui bahwa seks bebas memiliki dampak yang buruk bagi pelakunya, penularan virus HIV AIDS adalah salah satunya, Ironinya tidak dari kalangan pelajar saja yang melakukan tindakan hina tersebut oknum guru pun yang seharusnya menjadi orang tua, pelindung, oengajar, sekaligus pendidik tega melakukan hal tersebut terhadap muridnya. Sungguh apap yang ada di otak guru tersebut. Dan yang marak sekarang ini adalah narkoba. Tidak sedikit pelajar Indoneia yang sudah terkena narkoba. tentunya dengan beraneka macam alasan, kulai dari pengaruh teman, ingin coba-coba, ingin mencari jati diri, sampai ingin menghilangkan stres karena suatu masalah yang menurutnya tidak dapat diselesaikan.Tak khayal demi mendapatkan barang haram tersebut mereka rela menghalalkan segala cara sampai membohongi orang tua mereka. Semua tersebar di atas adalah sekilas tentang potret pendidikan di Indonesia sekarang.Sangat ironi sekali bukankah yang harusnya mereka lakukan adalah belajar dengan tekun untuk dapat mencetak prestasi sebanyak mungkin yang membanggakan dan membawa nama baik Indonesia serta membawa perubahan yang baik bagi Indonesia. Saya rasa tidak ada kata terlambat untuk menuju kebaikan. Semua hal tersebut dapat diatasi dengan peran orang tua dan guru serta lingkungan pergaulan yang baik. Namun kesadarandan rasa tanggung jawab yang tinggi dari diri kita adalah hal yang terpenting.Latar belakang pendidikan tinggi tidak menjadi suatu jaminan bagi seseorang memiliki sikap dan pribadi yang mencerminkan orang terdidik. Para pejabat negara yang melakukan korupsi adalah contohnya. Bukan hamya pendidikan akademik saja yang perlu diajarkan, pendidikan moralpun tidak kalah penting.
    

      Betapa pentingnya menjadi seorang yang terdidik karena orang -orang itulah yang perlukan bagi bangsa kita.Sungguh Indonesia akan menjadi negar yang aman, damai, dan tenteram karena tidak ada aksi anarkhisme, premanisme, terorisme, dan kriminalitas. Indonesia juga akan menjadi negara yang kaya, makmur, dan sejahtera karena SA yang terjaga dan tekelola dengan baik. Dan yangtidak kalah penting adalah SDM yang berkualitas dan mampu bersaing dengan negara lain.

    Dengan menjadi orang yang terdidik kita akan memiliki pandangan hidup yang luas, bisa menempatkan diri sesuai dengan posisi, tidak gegabah dalam mengambil keputusam, bertindak sesuai prosedur, dan dapat saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada. Untuk itu pendidikan perlu kita tanamkan sejak dini kepada anak-anak kita sebagai bekal untuk kehidupan mereka kelak nanti.

 

                                    

 

 

 

                                       BAB III

                                     PENUTUP

A.Kesimpulan

 

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Tujuan kaum terdidik tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan finansial, tetapi juga untuk menjawab panggilan moral. Kaum terdidik diibaratkan sebagai pelita yang menerangi kegelapan dan garam yang memberi cita rasa bagi bangsa. Karena itu, mereka dituntut untuk memiliki akuntabilitas publik terhadap profesinya serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
  2. Arah kaum terdidik perlu diluruskan melalui reorientasi moral, yaitu dari moral luck, moral relativism, dan moral scepticism menuju moral rasional dan moral realism. Reorientasi ini harus diperkuat dengan reaktualisasi modal sosial, seperti kejujuran, kepercayaan, kemampuan bekerja sama, dan kedisiplinan. Pembangunan yang hanya mengutamakan aspek ekonomi terbukti menimbulkan ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan kemiskinan. Pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan pembangunan moral dan modal sosial.
  3. Kondisi kaum terdidik saat ini masih memprihatinkan. Terjadi pergeseran nilai moral dalam dunia pendidikan, yang tampak dari maraknya tawuran, kekerasan, pelecehan seksual, seks bebas, penyalahgunaan narkoba, dan korupsi oleh pejabat berpendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya latar belakang pendidikan tidak otomatis menjamin kualitas pribadi dan moral seseorang.
  4. Kondisi masa depan kaum terdidik dapat menjadi lebih baik apabila pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan akademik, tetapi juga pendidikan moral. Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang memperhatikan kesejahteraan dan pendanaan pendidikan, peran orang tua, guru, dan lingkungan pergaulan yang baik, serta kesadaran dan tanggung jawab pribadi, kaum terdidik dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang aman, damai, dan sejahtera.

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “Qua Vadis Kaum Terdidik” adalah bahwa kaum terdidik seharusnya berjalan menuju keseimbangan antara panggilan moral dan kebutuhan finansial, dengan moralitas sebagai landasan utama dan kesejahteraan sebagai sarana pendukung, bukan sebaliknya.

 

C            B.  Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Bagi kaum terdidik, hendaknya menjadikan moral dan kejujuran sebagai landasan utama dalam menjalankan profesi, serta tidak menjadikan jabatan dan keuntungan finansial sebagai tujuan satu-satunya. Kaum terdidik perlu menjaga akuntabilitas publik dan berani bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan.
  2. Bagi lembaga pendidikan, perlu menyeimbangkan pendidikan akademik dengan pendidikan moral. Kurikulum sebaiknya tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga menanamkan nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan sopan santun melalui pembiasaan dan keteladanan dari para pendidik.
  3. Bagi pendidik dan orang tua, diharapkan dapat menjadi teladan yang baik serta memberikan pengawasan dan bimbingan kepada peserta didik, terutama dalam menghadapi pengaruh pergaulan yang negatif seperti tawuran, kekerasan, seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba.
  4. Bagi pemerintah, perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan tenaga pendidik, peningkatan dana pendidikan, serta kebijakan yang menjamin pemerataan kualitas pendidikan. Pengawasan terhadap praktik korupsi di lingkungan pejabat berpendidikan tinggi juga perlu diperketat.
  5. Bagi peserta didik dan mahasiswa, hendaknya belajar dengan tekun, menjauhi perilaku yang merusak diri dan lingkungan, serta menyadari bahwa pendidikan adalah bekal untuk memberikan kontribusi positif bagi bangsa.
  6. Bagi penulis selanjutnya, makalah ini masih memiliki keterbatasan, sehingga diharapkan kajian berikutnya dapat membahas topik ini lebih mendalam dengan dukungan data empiris dan referensi yang lebih beragam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                     DAFTAR PUSTAKA

 

Kartasasmita, G., 1996. Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan

dan Pemerataan. Cides. Jakarta.

Kompas, Tanggal 5 dan 17 September 2001.

Kompas, Tanggal 8  dan 14 Oktober 2001.

Letug, T., 2001. Guru, Doktor dan Profesor. Dipetik Dari Internet  Tanggal 28

September 2001

Mudyahardjo, R., 2001. Filsafat Ilmu Pendidikan. Suatu Pengantar.PT. Remaja

Rosdakarya. Bandung

Nurudin, 2001.  Komunikasi Propaganda. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung

Suseno, F. M., 1992.  Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Kanisius. Yogyakarta.

Suriasumantri, J. S., 2000. Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar

harapan. Jakarta.

Sobary, M., 2001. Zaman Sontoloyo. Harian Kompas. Tanggal 2 September 2001.

Taruma, T. Kompas Tanggal 22 September 2001.

Tilaar, H.A.R., 1997.  Pengembangan Sumberdaya Manusia Dalam Era Globalisasi.

Visi, Misi, dan program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020.

Grasindo. Jakarta.



[1] Kartasasmita,1996

[2] Mudyahardjo, R., 2001. Filsafat Ilmu Pendidikan. Suatu Pengantar.PT. Remaja Rosdakarya. Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar