Sabtu, 24 Oktober 2026

MAKALAH PENGERTIAN SANAD, PENGERTIAN MATAN, DAN PENGERTIAN RAWI

 

MAKALAH PENGERTIAN SANAD, PENGERTIAN MATAN, DAN PENGERTIAN RAWI

 

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH STUDI HADITS

Dosen pengampu:

Dr. M.Dzikrul Hakim, M.Pd.I

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Disusun oleh kelompok 2

Muhammad Ulil Albab          (2501021045)

Shinta izzana azimatllah         (2501021040)

 

 

PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS KH.A.WAHAB HASBULLAH

TAMBAKBERAS JOMBANG

2026

 

KATA PENGANTAR

       Puji syukur ata kehadirat allah SWT berkat nikmat, hidayah serta inayahNya kami bisa melaksanakan tugas pembuatan makalah yang bertemakan “Pengertian sanad, pengertian matan, dan pengertian rawi.”. Lalu sholawat beserta salam tetap tercurah limpahkan pada junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW berkatnya kita selaku ummat manusia bisa menjalankan hidup dengan penuh tuntunan dan arah yang membawa pada hakikatNya.

        Makalah ini disusun dengan besar harapan kami, agar supaya pembaca bisa mengambil pelajaran.Terkhususnya pada kami sendiri, lebih-lebih pada banyak orang dan tentunya bisa menjadikan orang lebih beriman dan bertaqwa kepada allah SWT.

         Akan tetapi, pasti makalah ini memiliki banyak kekurangan walaupun kami sebagai penulis telah berusaha semaksimal mungkin.Kami berharap pembaca bisa memaklumi dengan kekurangan-kekurangan yang ada maupun kelebihannya dapat dibuat pelajaran oleh kita semua.

 

 

 

 

 

                                                                  Jombang, 02 Maret 2026

 

                                           Penulis

 

 

 

        

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................. ii

DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A.    Latar Belakang Masalah............................................................................. 1

B.    Rumusan Masalah...................................................................................... 2

C.    Tujuan Pembahasan.................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................. 3

A.     Pengertian Sanad......................................................................................... 3

B.     Pengertian Matan......................................................................................... 5

C.      Pengertian Rawi........................................................................................... 6

BAB III PENUTUP ..................................................................................................... 8

A.    Kesimpulan................................................................................................. 8

B.    Saran........................................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................9


 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.             Latar Belakang    

Hadis merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Keberadaannya sangat penting dalam menjelaskan, merinci, dan menegaskan hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Namun, tidak semua hadis dapat langsung diterima tanpa penelitian. Sejak masa sahabat hingga berkembangnya ilmu hadis, para ulama telah menyusun metodologi yang ketat untuk menjaga keaslian hadis dari pemalsuan dan kesalahan periwayatan.

Dalam kajian ilmu hadis, terdapat tiga unsur utama yang menjadi fokus penelitian, yaitu sanad, matan, dan rawi. Sanad adalah rantai periwayatan hadis, matan adalah teks atau isi hadis, sedangkan rawi adalah orang yang meriwayatkan hadis tersebut. Ketiga unsur ini menjadi dasar dalam menentukan kualitas suatu hadis, apakah shahih, hasan, atau dhaif.

Memahami pengertian sanad, matan, dan rawi sangat penting bagi mahasiswa Studi Hadis agar mampu menganalisis hadis secara kritis dan ilmiah. Tanpa pemahaman yang baik terhadap ketiga konsep ini, seseorang akan kesulitan dalam menilai keabsahan sebuah hadis. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pengertian sanad, matan, dan rawi menjadi dasar fundamental dalam studi ilmu hadis.

 

 

 

 

 

B.   Rumusan Masalah

1.     Apa yang dimaksud dengan sanad dalam ilmu hadis?

2.     Apa yang dimaksud dengan matan dalam ilmu hadis?

3.     Apa yang dimaksud dengan rawi dalam ilmu hadis?

4.     Bagaimana peran sanad, matan, dan rawi dalam menentukan kuali  tas hadis?

C.   Tujuan Pembahasan

1.     Untuk mengetahui dan memahami pengertian sanad dalam ilmu hadis.

2.     Untuk mengetahui dan memahami pengertian matan dalam ilmu hadis.

3.     Untuk mengetahui dan memahami pengertian rawi dalam ilmu hadis.

4.     Untuk menjelaskan peran sanad, matan, dan rawi dalam menentukan kualitas dan keotentikan hadis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Sanad

Dalam Ilmu Hadis, Sanad ialah :

السند هو طريق اي سلسلة الرواة الذين تقلوا المتن عن مصدره الاولى

“Sanad adalah jalan menuju matan hadits yakni rangkaian periwayat yang meriwayatkan matan dari sumber pertama.” (Al-Khatib, 1975 : 32)

Menurut bahasa, sanad berarti “al-mu’tamad” yaitu yang di perpegangi (yang kuat) atau sandaran yang dapat dipegangi atau dipercayai, kaki bukit atau kaki gunung. Secara istilah adalah jalan yang menyampaikan sampai kepada matan hadis. Penelitian sanad adalah an-Naqd alKharaja (kritik ekstern) hadis yang merupakan telaah atas prosedur periwayatan terhadap sejumlah rawi yang secara runtun menyampaikan matan hingga rawi terakhir.[1] Ahli hadis memberikan pengertian sanad sebagai berikut:

a.      Al-Suyuti mendefinisikan sanad, dalam bukunya Tadrib ar-Rawi: 41, adalah berita tentang jalan matan.

b.      Ajjaj al-Khatib dalam buku Ushul al Hadīṡ mendefinisikan sanad dengan silsilah para perawi yang menukilkan hadis dari sumbernya yang pertama.[2]

Pengertian sanad yang dimaksud adalah jalan atau rangkaian periwayat yang menyampaikan sabda Nabi Muhammad. Sanad juga memberi gambaran keaslian suatu riwayat. Oleh karena itu, sanad dianggap neraca untuk menimbang sahih atau daifnya hadis, andaikan salah seorang dalam sanad-sanad tersebut ada yang fasik atau yang tertuduh pernah dusta, maka hadis tersebut dikatakan daif atau tidak dapat dijadikan hujjah untuk menentukan suatu hukum.[3]

Maka contoh hadits adalah :

 

1.     حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَاصِ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya “Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"

2.     قال الفقيه أبو الليث السمرقندي رحمه الله تعالى : حدثنا أبي رحمه الله، حدثنا أبو الحسن الغراء،حدثنا محمد بن غالب البغدادي، عن الحسن بن علي، عن الفضل بن سهل، عن ابن عاتكة، قال أنس بن مالك رضي الله تعالى عنه : سئل رسول الله : أي المؤمنين أكمل إيماناً؟ قال : «أحسنهم خُلقاً مع أهله» .

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ ditanya: "Siapakah orang mukmin yang paling sempurna imannya?" Beliau menjawab: "Yang paling baik akhlaknya terhadap keluarganya."

B.   Pengertian Matan

Dari segi bahasa, Matan berrarti ما صلب ارتف من الارض  (Tanah yang meninggi. Sedang menurut istilah, matan ialah :

ماينتهي اليه السند من الكلم

“Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad.” (Suparta, 1993 : 37)

Istilah matan memiliki beberapa definisi, yang pada dasarnya maknanya sama, yaitu materi atau lafal hadis itu sendiri. Pada salah satu detinisi yang sangat Sederhana misalnya, disebutkan bahwa matan itu ialah ujung atau tujuan sanad (gayah as-sanad). Dari definisi ini memberikan pengertian bahwa apa yang tertulis setelah (penulisan ) silsilah sanad, adalah matan hadis. “Suatu kalimat tempat berakhirnya.” Secara umum, matan dapat diartikan selain sesuatu pembicaraan yang berasal atau tentang Nabi, juga berasal atau tentang sahabat atau Tabi’in. (Ismail, 1978 : 21)

Demikian juga, ʹAlī Muhammad Nashr mengatakan tentang definisi matan:

ألفاظ الحديث التي تتقوم بها المعاني

“Lafazh-lafazh hadits, yang sebab lafazh-lafazh tersebut terbentuklah makna.”

Sedangkan ath-Thibi mendefinisikannya dengan: “Lafal-lafal hadis yang di dalanmnya mengandung makna-makna tertentu”.

Kalimat "ujung sanad”, "tempat berakhirnya sanad”, atau lafal hadis yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu, kegiatan yang menujukkan kepada pemahaman yang sama yaitu bahwa yang disebut matan ialah materi atau lafal hadis itu sendiri, yang penulisannya ditempatkan setelah sanad dan sebelum rawi atau mudawwin.

Dengan demikian tata letak matan dalam struktur utuh penyajian hadits senantiasa jatuh setelah ujung terakhir sanad”. Jadi matan hadits merupakan materi berita atau redaksi yang disampaikan oleh sanad trakhir.

Contoh matan hadits :

إِنَّمَا الأعمال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ

Artinya: “Sesungguhnya amal seseorang itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang di niatkannya. Barangsiapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan RasulNya, maka ia mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut”. (Haditst Riwayat Bukhari & Muslim)

C.   Pengertian Rawi

Kata  rawi  atau  al-rawi  berarti  orang  yang  meriwayatkanatau  memberitakan  hadis  (naqil al-hadis).  Defenisi  lain  mengatakan  bahwa  rawi  adalah  orang  yang  menerima  hadis  kemudian menghimpunnya  dalam  satu  kitab  tadwin.  Dengan  kata  lain  seorang  rawi  adalah  mudawwin  (yang membukukan  hadis) (Agusman  Damanik,  2017).  Yang  dimaksud  dengan  rawi  adalah  orang  yang menyampaikan  atau  menuliskan  dalam  suatu  kitab  apa-apa  yang  pernah  didengar  dan  diterimanya dari  seseorang  (gurunya) baik mengenai perkataan, perbuatan dan taqrir Rasulullah SAW.

Bentuk  jamaknya  adalah  ruwah  dan  perbuatannya  menyampaikan  hadis disebut  meriwayatkan  Hadis (Merawiy).  Sebuah  Hadis  sampai  kepada  kita  dalam  bentuknya  yang  sudah terdewan  dalam  dewan-dewan  Hadis,  melalui  beberapa  rawi  dan  sanad. Seorang  pengarang  bila hendak   menguatkan   suatu   Hadis   yang   ditakhrijkan   dari   suatu   kitab   Hadis   pada   umumnya membubuhkan  nama  rawi  terakhirnya  pada  akhir  matan  Hadis.  Dalam  contoh  Hadis  di  depan,  rawi terakhirnya  adalah  Imam  Bukhari.  Sedangkan  rawi  pertamanya  adalah  Abdullah  (sahabat  nabi) (Khusniati Rofiah, 2018: 15).

Sebenarnya, sanad dan rawi itu merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad hadits pada tiap thobaqohnya, juga disebut rawi. Akan tetapi, yang membedakan antara kedua istilah di atas, jika dilihat lebih lanjut adalah dalam dua hal, yaitu dalam hal pembukaan hadis, orang yang menerima hadis-hadis, kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut dengan rawi. Dengan demikian maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukakan dan menghimpun hadis), sedangkan orang-orang lain tanpa membukakannya, yang demikian itu disebut sanad hadis.

Untuk lebih memperjelas uraian tentang sanad, rawi, dan matan di atas, ada baiknya melihat penjelasan lebih lanjut pada hadis di bawan ini.

“Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan (hadis) kepada kami,” katanya, Abu Muawiyah telah menceritakan (hadis) kepada kami, yang diterimanya dari al-A'masy, dari Umar bin Umair dari Abd Ar-Rahman bin Yazid, dari Abdullah bin Mas'ud, katanya, "Rasulullah saw. telah bersabda kepada kami, wahai sekalian pemuda. Barang siapa yang sudah mampu untuk melakukan pernikahan, maka menikahlah karena dengan menikah itu lebih dapat menutup mata dan (lebih dapat) menjaga kehormnatan. Akan tetapi, barang siapa yang belum mampu melakukannya, baginya hendaklah berpuasa. Karena, dengan puasa itu dapat menahan hasrat seksual" (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Muslim t.t: 638).

Dari nama Abu Bakar bin Abi Syaibah sampai dengan Abdullah bin Mas'ud, merupakan silsilah atau rangkaian atau susunan orang-orang yang menyampaikan hadis. Mereka semua adalah sanad hadis tersebut yang juga disebut jalan matan. Mulai kata yama'syara asy-syabab sampai dengan kata fa înnahu lahu wija'un, adalah matan. Oleh salah satu definisı, lafal tersebut disebut sebagai ujung atau tujuan sanad. sedangkan nama al-Bukhari dan Muslim yang ditulis pada akhir matan disebut rawi (orang yang meriwayatkan hadis). karena keduanya (masing-masing) membukukan hadis, maka mereka disebut mudawwin (yang membukukan hadis)

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

         Berdasarkan pembahasan mengenai pengertian sanad, matan, dan rawi dalam ilmu hadis, dapat disimpulkan bahwa ketiganya merupakan unsur pokok dalam menentukan keabsahan suatu hadis. Sanad adalah rangkaian para periwayat yang menyampaikan hadis dari sumber pertama hingga perawi terakhir. Matan adalah teks atau isi hadis yang menjadi inti ajaran yang disampaikan. Sedangkan rawi adalah individu yang meriwayatkan hadis dan menjadi bagian dalam mata rantai sanad.

Keberadaan sanad, matan, dan rawi tidak dapat dipisahkan dalam kajian ilmu hadis. Penelitian terhadap sanad bertujuan untuk memastikan kesinambungan periwayatan, penelitian terhadap rawi bertujuan menilai keadilan dan ketelitian periwayat, sedangkan penelitian terhadap matan bertujuan memastikan isi hadis tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, akal sehat, maupun hadis lain yang lebih kuat. Dengan demikian, pemahaman terhadap ketiga unsur ini menjadi dasar penting dalam menentukan kualitas hadis, apakah shahih, hasan, atau dhaif.

 

 

 

 

 

                                                     

 

                                                                                  

DAFTAR PUSTAKA

Muslehuddin, Nurmaidah, & Zahraini. (2021). Pengantar Ilmu Hadits. Mataram: Sanabil.

 

 Ginting, E. (2024). Metode Penelitian Sanad. Jurnal Ilmu Kewahyuan, 7(1), 73-84.  http://dx.doi.org/10.51900/shh.v7i1.21081

 

Konsep Dasar Studi Hadits. (2026). Journal Analisis Niaga Dan Ilmu Sosial, 1(2), 101-112. https://anispadanglawas.com/index.php/jers/article/view/3

 

Mustofa, A. (2024). Integrasi kritik sanad dan matan dalam kajian hadis modern. Jurnal Ushuluddin, 12(1).

 

Mustang, A., & Abubakar, S. F. (2025). Metode Kritik Sanad (Naqd Al-Sanad). Dahzain Nur, 15(2), 111–117. https://doi.org/10.69834/dn.v15i2.377

 

Urgensi Sanad Keilmuan Dalam Meningkatkan Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Islam (PAI). (2023). Piwulang: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 6(1), 45-54. https://doi.org/10.32478/piwulang.v6i1.1814



[1]  Husein Yusuf, Kriteria Hadis Sahih, Kritik Sanad dan Matan, (Yokyakarta: Universitas Muhammadiyah, 1996), h. 30-35.

[2] Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), h. 220

[3] Yuzaidi, “Metodologi Penelitian Sanad dan Matan Hadis”, al-Mu’tabar: Jurnal Ilmu Hadis, Vol. 1, No. 1, 2021, h. 31-47.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar