MAKALAH
PENGERTIAN SANAD, PENGERTIAN MATAN, DAN PENGERTIAN RAWI
DISUSUN
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH STUDI HADITS
Dosen
pengampu:
Dr.
M.Dzikrul Hakim, M.Pd.I
Disusun
oleh kelompok 2
Muhammad
Ulil Albab (2501021045)
Shinta
izzana azimatllah (2501021040)
PROGRAM
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
KH.A.WAHAB HASBULLAH
TAMBAKBERAS
JOMBANG
2026
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur ata kehadirat allah SWT berkat nikmat, hidayah serta inayahNya kami bisa
melaksanakan tugas pembuatan makalah yang bertemakan “Pengertian sanad,
pengertian matan, dan pengertian rawi.”. Lalu sholawat beserta salam tetap
tercurah limpahkan pada junjungan kita yakni Nabi Muhammad SAW berkatnya kita selaku
ummat manusia bisa menjalankan hidup dengan penuh tuntunan dan arah yang
membawa pada hakikatNya.
Makalah ini disusun dengan besar
harapan kami, agar supaya pembaca bisa mengambil pelajaran.Terkhususnya pada
kami sendiri, lebih-lebih pada banyak orang dan tentunya bisa menjadikan orang
lebih beriman dan bertaqwa kepada allah SWT.
Akan tetapi, pasti makalah ini
memiliki banyak kekurangan walaupun kami sebagai penulis telah berusaha
semaksimal mungkin.Kami berharap pembaca bisa memaklumi dengan
kekurangan-kekurangan yang ada maupun kelebihannya dapat dibuat pelajaran oleh
kita semua.
Jombang, 02 Maret 2026
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................................. ii
DAFTAR
ISI .............................................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 2
C. Tujuan Pembahasan.................................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN ............................................................................................. 3
A. Pengertian Sanad......................................................................................... 3
B. Pengertian Matan......................................................................................... 5
C. Pengertian Rawi........................................................................................... 6
BAB
III PENUTUP ..................................................................................................... 8
A. Kesimpulan................................................................................................. 8
B. Saran........................................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA.............................................................................................9
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Hadis merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah
Al-Qur’an. Keberadaannya sangat penting dalam menjelaskan, merinci, dan
menegaskan hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Namun, tidak semua hadis
dapat langsung diterima tanpa penelitian. Sejak masa sahabat hingga
berkembangnya ilmu hadis, para ulama telah menyusun metodologi yang ketat untuk
menjaga keaslian hadis dari pemalsuan dan kesalahan periwayatan.
Dalam kajian ilmu hadis, terdapat tiga unsur utama yang
menjadi fokus penelitian, yaitu sanad, matan,
dan rawi. Sanad adalah rantai periwayatan hadis, matan adalah
teks atau isi hadis, sedangkan rawi adalah orang yang meriwayatkan hadis
tersebut. Ketiga unsur ini menjadi dasar dalam menentukan kualitas suatu hadis,
apakah shahih, hasan, atau dhaif.
Memahami pengertian sanad, matan, dan rawi sangat
penting bagi mahasiswa Studi Hadis agar mampu menganalisis hadis secara kritis
dan ilmiah. Tanpa pemahaman yang baik terhadap ketiga konsep ini, seseorang
akan kesulitan dalam menilai keabsahan sebuah hadis. Oleh karena itu,
pembahasan mengenai pengertian sanad, matan, dan rawi menjadi dasar fundamental
dalam studi ilmu hadis.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan sanad dalam ilmu hadis?
2.
Apa yang
dimaksud dengan matan dalam ilmu hadis?
3.
Apa yang
dimaksud dengan rawi dalam ilmu hadis?
4.
Bagaimana
peran sanad, matan, dan rawi dalam menentukan kuali tas hadis?
C. Tujuan Pembahasan
1.
Untuk
mengetahui dan memahami pengertian sanad dalam ilmu hadis.
2.
Untuk
mengetahui dan memahami pengertian matan dalam ilmu hadis.
3.
Untuk
mengetahui dan memahami pengertian rawi dalam ilmu hadis.
4.
Untuk
menjelaskan peran sanad, matan, dan rawi dalam menentukan kualitas dan
keotentikan hadis.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sanad
Dalam Ilmu Hadis, Sanad
ialah :
السند هو طريق اي سلسلة الرواة
الذين تقلوا المتن عن مصدره الاولى
“Sanad adalah jalan
menuju matan hadits yakni rangkaian periwayat yang meriwayatkan matan dari
sumber pertama.” (Al-Khatib, 1975 : 32)
Menurut bahasa, sanad
berarti “al-mu’tamad” yaitu yang di perpegangi (yang kuat) atau sandaran
yang dapat dipegangi atau dipercayai, kaki bukit atau kaki gunung. Secara
istilah adalah jalan yang menyampaikan sampai kepada matan hadis. Penelitian
sanad adalah an-Naqd alKharaja (kritik ekstern) hadis yang merupakan telaah
atas prosedur periwayatan terhadap sejumlah rawi yang secara runtun
menyampaikan matan hingga rawi terakhir.[1] Ahli
hadis memberikan pengertian sanad sebagai berikut:
a. Al-Suyuti mendefinisikan sanad, dalam bukunya Tadrib ar-Rawi:
41, adalah berita tentang jalan matan.
b. Ajjaj al-Khatib dalam
buku Ushul al Hadīṡ mendefinisikan sanad dengan silsilah para perawi yang
menukilkan hadis dari sumbernya yang pertama.[2]
Pengertian sanad yang
dimaksud adalah jalan atau rangkaian periwayat yang menyampaikan sabda Nabi
Muhammad. Sanad juga memberi gambaran keaslian suatu riwayat. Oleh karena itu,
sanad dianggap neraca untuk menimbang sahih atau daifnya hadis, andaikan salah
seorang dalam sanad-sanad tersebut ada yang fasik atau yang tertuduh pernah
dusta, maka hadis tersebut dikatakan daif atau tidak dapat dijadikan hujjah
untuk menentukan suatu hukum.[3]
Maka contoh hadits
adalah :
1.
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ
أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَاصِ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ
الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا
لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ
إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Artinya “Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah
bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata,
bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah
mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah
mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin
Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan
(balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa
niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan
yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"
2. قال الفقيه أبو الليث السمرقندي رحمه الله تعالى : حدثنا أبي رحمه
الله، حدثنا أبو الحسن الغراء،حدثنا محمد بن غالب البغدادي، عن الحسن بن علي، عن الفضل
بن سهل، عن ابن عاتكة، قال أنس بن مالك رضي الله تعالى عنه : سئل رسول الله : أي المؤمنين
أكمل إيماناً؟ قال : «أحسنهم خُلقاً مع أهله» .
Anas bin Malik
radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ ditanya: "Siapakah orang mukmin
yang paling sempurna imannya?" Beliau menjawab: "Yang paling baik
akhlaknya terhadap keluarganya."
B. Pengertian Matan
Dari segi bahasa, Matan berrarti ما صلب ارتف من الارض (Tanah yang meninggi. Sedang menurut istilah,
matan ialah :
ماينتهي اليه السند
من الكلم
“Suatu
kalimat tempat berakhirnya sanad.” (Suparta, 1993 : 37)
Istilah matan memiliki beberapa definisi, yang pada dasarnya
maknanya sama, yaitu materi atau lafal hadis itu sendiri. Pada salah satu
detinisi yang sangat Sederhana misalnya, disebutkan bahwa matan itu ialah ujung
atau tujuan sanad (gayah as-sanad). Dari definisi ini memberikan pengertian
bahwa apa yang tertulis setelah (penulisan ) silsilah sanad, adalah matan
hadis. “Suatu kalimat tempat berakhirnya.” Secara umum, matan dapat diartikan
selain sesuatu pembicaraan yang berasal atau tentang Nabi, juga berasal atau
tentang sahabat atau Tabi’in. (Ismail, 1978 : 21)
Demikian juga, ʹAlī Muhammad Nashr mengatakan tentang definisi
matan:
ألفاظ الحديث التي
تتقوم بها المعاني
“Lafazh-lafazh
hadits, yang sebab lafazh-lafazh tersebut terbentuklah makna.”
Sedangkan ath-Thibi mendefinisikannya dengan: “Lafal-lafal hadis
yang di dalanmnya mengandung makna-makna tertentu”.
Kalimat "ujung sanad”, "tempat berakhirnya sanad”, atau
lafal hadis yang di dalamnya mengandung makna-makna tertentu, kegiatan yang
menujukkan kepada pemahaman yang sama yaitu bahwa yang disebut matan ialah
materi atau lafal hadis itu sendiri, yang penulisannya ditempatkan setelah sanad
dan sebelum rawi atau mudawwin.
Dengan demikian tata letak matan dalam struktur utuh penyajian
hadits senantiasa jatuh setelah ujung terakhir sanad”. Jadi matan hadits
merupakan materi berita atau redaksi yang disampaikan oleh sanad trakhir.
Contoh matan hadits :
إِنَّمَا الأعمال
بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ
وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا
يُصِيبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ
Artinya: “Sesungguhnya amal seseorang itu tergantung dengan
niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang di niatkannya.
Barangsiapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan RasulNya, maka ia
mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa
berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau
wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada
apa yang ia niatkan tersebut”. (Haditst Riwayat Bukhari & Muslim)
C. Pengertian Rawi
Kata rawi
atau al-rawi berarti
orang yang meriwayatkanatau memberitakan
hadis (naqil al-hadis). Defenisi
lain mengatakan bahwa
rawi adalah orang
yang menerima hadis
kemudian menghimpunnya dalam satu
kitab tadwin. Dengan
kata lain seorang
rawi adalah mudawwin
(yang membukukan hadis)
(Agusman Damanik, 2017).
Yang dimaksud dengan
rawi adalah orang
yang menyampaikan atau menuliskan
dalam suatu kitab
apa-apa yang pernah
didengar dan diterimanya dari seseorang
(gurunya) baik mengenai perkataan, perbuatan dan taqrir Rasulullah SAW.
Bentuk jamaknya
adalah ruwah dan
perbuatannya menyampaikan hadis disebut
meriwayatkan Hadis (Merawiy). Sebuah
Hadis sampai kepada
kita dalam bentuknya
yang sudah terdewan dalam
dewan-dewan Hadis, melalui
beberapa rawi dan
sanad. Seorang pengarang bila hendak
menguatkan suatu Hadis
yang ditakhrijkan dari
suatu kitab Hadis
pada umumnya membubuhkan nama
rawi terakhirnya pada
akhir matan Hadis.
Dalam contoh Hadis
di depan, rawi terakhirnya adalah
Imam Bukhari. Sedangkan
rawi pertamanya adalah
Abdullah (sahabat nabi) (Khusniati Rofiah, 2018: 15).
Sebenarnya,
sanad dan rawi itu merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan.
Sanad-sanad hadits pada tiap thobaqohnya, juga disebut rawi. Akan tetapi, yang
membedakan antara kedua istilah di atas, jika dilihat lebih lanjut adalah dalam
dua hal, yaitu dalam hal pembukaan hadis, orang yang menerima hadis-hadis,
kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut dengan rawi. Dengan
demikian maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukakan dan
menghimpun hadis), sedangkan orang-orang lain tanpa membukakannya, yang
demikian itu disebut sanad hadis.
Untuk lebih
memperjelas uraian tentang sanad, rawi, dan matan di atas, ada baiknya melihat
penjelasan lebih lanjut pada hadis di bawan ini.
“Abu Bakar
bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib telah menceritakan (hadis) kepada kami,”
katanya, Abu Muawiyah telah menceritakan (hadis) kepada kami, yang diterimanya
dari al-A'masy, dari Umar bin Umair dari Abd Ar-Rahman bin Yazid, dari Abdullah
bin Mas'ud, katanya, "Rasulullah saw. telah bersabda kepada kami, wahai
sekalian pemuda. Barang siapa yang sudah mampu untuk melakukan pernikahan, maka
menikahlah karena dengan menikah itu lebih dapat menutup mata dan (lebih dapat)
menjaga kehormnatan. Akan tetapi, barang siapa yang belum mampu melakukannya,
baginya hendaklah berpuasa. Karena, dengan puasa itu dapat menahan hasrat
seksual" (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Muslim t.t: 638).
Dari nama Abu
Bakar bin Abi Syaibah sampai dengan Abdullah bin Mas'ud, merupakan silsilah
atau rangkaian atau susunan orang-orang yang menyampaikan hadis. Mereka semua
adalah sanad hadis tersebut yang juga disebut jalan matan. Mulai kata
yama'syara asy-syabab sampai dengan kata fa înnahu lahu wija'un, adalah matan.
Oleh salah satu definisı, lafal tersebut disebut sebagai ujung atau tujuan
sanad. sedangkan nama al-Bukhari dan Muslim yang ditulis pada akhir matan
disebut rawi (orang yang meriwayatkan hadis). karena keduanya (masing-masing)
membukukan hadis, maka mereka disebut mudawwin (yang membukukan hadis)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai pengertian
sanad, matan, dan rawi dalam ilmu hadis, dapat disimpulkan bahwa ketiganya
merupakan unsur pokok dalam menentukan keabsahan suatu hadis. Sanad adalah
rangkaian para periwayat yang menyampaikan hadis dari sumber pertama hingga
perawi terakhir. Matan adalah teks atau isi hadis yang menjadi inti ajaran yang
disampaikan. Sedangkan rawi adalah individu yang meriwayatkan hadis dan menjadi
bagian dalam mata rantai sanad.
Keberadaan sanad, matan, dan rawi tidak
dapat dipisahkan dalam kajian ilmu hadis. Penelitian terhadap sanad bertujuan
untuk memastikan kesinambungan periwayatan, penelitian terhadap rawi bertujuan
menilai keadilan dan ketelitian periwayat, sedangkan penelitian terhadap matan
bertujuan memastikan isi hadis tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, akal sehat,
maupun hadis lain yang lebih kuat. Dengan demikian, pemahaman terhadap ketiga
unsur ini menjadi dasar penting dalam menentukan kualitas hadis, apakah shahih,
hasan, atau dhaif.
DAFTAR
PUSTAKA
Muslehuddin, Nurmaidah, & Zahraini. (2021). Pengantar Ilmu
Hadits. Mataram: Sanabil.
Ginting, E. (2024). Metode
Penelitian Sanad. Jurnal Ilmu Kewahyuan, 7(1), 73-84. http://dx.doi.org/10.51900/shh.v7i1.21081
Konsep Dasar Studi Hadits. (2026). Journal Analisis Niaga
Dan Ilmu Sosial, 1(2), 101-112. https://anispadanglawas.com/index.php/jers/article/view/3
Mustofa, A. (2024). Integrasi kritik sanad dan matan dalam kajian
hadis modern. Jurnal Ushuluddin, 12(1).
Mustang, A., & Abubakar, S. F. (2025). Metode Kritik Sanad
(Naqd Al-Sanad). Dahzain Nur, 15(2), 111–117. https://doi.org/10.69834/dn.v15i2.377
Urgensi Sanad Keilmuan Dalam Meningkatkan Profesionalitas Guru Pendidikan
Agama Islam (PAI). (2023). Piwulang: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 6(1),
45-54. https://doi.org/10.32478/piwulang.v6i1.1814
[1] Husein Yusuf, Kriteria Hadis
Sahih, Kritik Sanad dan Matan, (Yokyakarta: Universitas Muhammadiyah, 1996), h.
30-35.
[2] Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Hadits, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007),
h. 220
[3] Yuzaidi, “Metodologi Penelitian Sanad dan Matan Hadis”, al-Mu’tabar:
Jurnal Ilmu Hadis, Vol. 1, No. 1, 2021, h. 31-47.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar