MAKALAH
SEJARAH
DAN PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING
DI
SUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH BIMBINGAN KONSELING
Dosen
Pengampu:
Aufia
Aisa,M.Pd.I
Disusun
oleh kelompok 2:
Muhammad Irfan Muzakki (2501021061)
Pransiska Alvina Nurjannah (2501021046)
Nanda Aulia Saputri (2501021044)
PROGAM PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS KH. A. WAHAB HASBULLAH
TAMBAKBERAS JOMBANG
2026 /2027
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt.
atas segala rahmat, taufik, hidayah, serta nikmat kesehatan yang telah
diberikan, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sejarah Dan
Perkembangan Bimbingan Konseling ” dengan baik. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., yang telah
membawa umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh dengan ilmu
pengetahuan.
Makalah ini disusun sebagai salah satu bentuk pemenuhan tugas
akademik sekaligus sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pemahaman mengenai
konsep dasar bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling merupakan bagian
penting dalam dunia pendidikan karena memiliki peran dalam membantu individu
memahami dirinya, mengembangkan potensi, menghadapi berbagai permasalahan,
serta mencapai perkembangan yang optimal. Oleh karena itu, pemahaman terhadap
sejarah dan perkembangan bimbingan konseling sangat diperlukan, khususnya bagi
mahasiswa yang memiliki keterkaitan dengan dunia pendidikan. Dalam makalah ini,
kami membahas beberapa hal yang berkaitan dengan sejarah dan perkembangan
bimbingan konseling. Pembahasan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman
mengenai hakikat bimbingan dan konseling serta pentingnya layanan tersebut
dalam membantu individu, khususnya peserta didik, dalam menghadapi berbagai
kebutuhan dan permasalahan yang mereka alami.
Sabtu, 26 September 2026
Penulis
DAFTAR ISI
A. Latar Belakang dan Sejarah Bimbingan dan Konseling di Dunia
B. Tokoh dalam Perkembangan Bimbingan dan Konseling
C. Sejarah Masuk dan Perkembangan Bimbingan Konseling di Indonesia
D. Bimbingan Konseling dalam Pendidikan dan Kehidupan Modern
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bimbingan dan
konseling merupakan bagian penting dalam proses pendidikan karena berfungsi
membantu peserta didik mengembangkan potensi, memahami diri, menyesuaikan diri
dengan lingkungan, serta menghadapi berbagai persoalan pribadi, sosial,
belajar, dan karier.
Keanekaragaman
peserta didik di sekolah tentu berpengaruh terhadap proses pembelajaran maupun
dalam pengembangan diri peserta didiknya sehingga diperlukan penanganan khusus
dari pihak sekolah. Salah satu komponen sekolah yang turut membantu
pengembangan diri peserta didik, adalah bimbingan dan konseling (BK). Sebagai
bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pendidikan, Bk memiliki peran penting
untuk dapat mengembangkan potensi seluruh peserta didik secara optimal. Yusuf
(2011) menyatakan bahwa pemberian layanan BK terhadap peserta didik sebagai upaya
mencapai perkembangan yang optimal merupakan tanggung jawab dari guru
BK/Konselor. [1]
Layanan
bimbingan dan konseling perlu diselenggarakan secara sistematis, berkelanjutan,
dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Penelitian menunjukkan bahwa layanan
BK memiliki peran dalam membantu perkembangan peserta didik, termasuk peserta
didik berkebutuhan khusus, melalui layanan responsif, konseling, dan konsultasi
dengan peserta didik maupun orang tua.
Selain itu, layanan konseling individual juga berkaitan dengan upaya membantu
peserta didik menyelesaikan tugas perkembangan sosialnya, meskipun
keberhasilannya turut dipengaruhi oleh dukungan keluarga dan lingkungan
sekitar. Secara historis, bimbingan dan
konseling di Indonesia mengalami perkembangan sejak tahun 1960-an dan kemudian
memperoleh pengakuan yang lebih kuat dalam sistem pendidikan serta profesi
keguruan. Berdasarkan uraian tersebut,
kajian mengenai sejarah dan perkembangan bimbingan dan konseling penting
dilakukan untuk memahami landasan kemunculannya, tokoh-tokoh yang berperan,
perkembangan BK di Indonesia, serta relevansinya dalam menjawab kebutuhan pendidikan
pada masa kini.[2]
Menjelang seratus
tahun ke-21, panduan telah menjadi sebuah panggilan yang sangat dihormati
karena mereka terkait erat dengan isu-isu perubahan zaman dan cara mereka
mengelola dan bertindak dalam iklim sosial mereka. Seiring kemajuan teknologi
dan kita memasuki era digital atau dikenal dengan era globalisasi, permasalahan
kemanusiaan menjadi semakin kompleks. Dua puluh satu ratus tahun, atau periode
globalisasi yang sedang berlangsung, digambarkan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan inovasi, semakin menyempurnakan sistem korespondensi dan data,
persaingan yang semakin sengit untuk memenuhi pedoman pasar global sebagai
hasil pemikiran dan pertimbangan, dan semakin banyaknya permintaan pekerjaan mahir.
Setiap pekerjaan harus berubah untuk memasuki masa perbaikan yang tidak dapat
disangkal lagi rumit ini.[3]
Konselor di era
digital harus memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara efektif dan
etis, serta memahami dampak teknologi terhadap interaksi konseling. Terakhir,
penting untuk mempertimbangkan bagaimana teknologi dan inovasi dapat membantu
dalam meningkatkan aksesibilitas layanan konseling, terutama di daerah-daerah
yang kurang terlayani. Dengan menggunakan teknologi, layanan konseling dapat
menjangkau lebih banyak orang dan memberikan bantuan konseling yang dibutuhkan
.[4]
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana Latar Belakang dan Sejarah Awal
Munculnya Bimbingan Konseling di Dunia?
2.
Siapa Saja Tokoh yang Berperan Penting dalam
Perkembangan Bimbingan dan Konseling serta Apa Kontribusinya?
3.
Bagaimana Sejarah Masuk dan Perkembangan
Bimbingan dan Konseling di Indonesia?
4.
Bagaimana Bimbingan dan Konseling dalam
Menghadapi Kebutuhan Pendidikan dan Kehidupan Modern?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui latar belakang dan sejarah
awal munculnya bimbingan konseling di dunia dan di Indonesia.
2.
Untuk
bisa menyebutkan tokoh-tokoh yang berperan penting dalam bimbingan dan
konseling
3.
Untuk mengetahui memahami peran bimbingan dan
konseling dalam membantu peserta didik mengembangkan potensi, kemampuan, dan
kepribadiannya.
4.
Untuk Mengetahui Cara Menghadapi Kebutuhan dan
Kehidupan Modern dalam Bimbingan dan Konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang dan Sejarah
Bimbingan dan Konseling di Dunia
Bimbingan dan
konseling muncul dari kebutuhan manusia untuk memperoleh bantuan dalam memahami
diri, menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri, dan menentukan pilihan hidup.
Pada awal perkembangannya, kegiatan bimbingan masih berbentuk nasihat,
pengarahan moral, serta pendampingan yang dilakukan oleh keluarga, tokoh agama,
dan masyarakat. Bimbingan dan konseling kemudian berkembang menjadi bidang
profesional , terutama di Amerika Serikat, Ketika persoalan pendidikan,
pekerjaan, dan perkembangan individu semakin kompleks. Jesse B. Davis dikenal
sebagai salah satu pelopor awal yang memasukkan kegiatan bimbingan ke dalam
lingkungan sekolah, sedangkan Frank Parsons berperan besar dalam mengembangkan
bimbingan karier melalui pendekatan yang menghubungkan pemahaman diri,
informasi pekerjaan, dan pengambilan keputusan.[5]
Sejarah
Perkembangan Profesi Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Menjelang seratus tahun
ke-21, panduan telah menjadi sebuah panggilan yang sangat dihormati karena
mereka terkait erat dengan isu-isu perubahan zaman dan cara mereka mengelola
dan bertindak dalam iklim sosial mereka. Seiring kemajuan teknologi dan kita
memasuki era digital atau dikenal dengan era globalisasi, permasalahan
kemanusiaan menjadi semakin kompleks. Dua puluh satu ratus tahun, atau periode
globalisasi yang sedang berlangsung, digambarkan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan inovasi, semakin menyempurnakan sistem korespondensi dan data,
persaingan yang semakin sengit untuk memenuhi pedoman pasar global sebagai
hasil pemikiran dan pertimbangan, dan semakin banyaknya permintaan pekerjaan mahir.
Setiap pekerjaan harus berubah untuk memasuki masa perbaikan yang tidak dapat
disangkal lagi rumit ini. Konselor berhubungan dengan tragedi manusia dan
kemungkinan dalam cara yang intensif, personal, dan perhatian, dan merupakan
pekerjaan yang dinamis, selalu berubah, dan menyenangkan. Konselor harus
memahami realitas saat ini, bukan hanya kemajuan copyright, teknologi dan
informasi, tetapi juga komplikasi yang semakin kompleks karena pekerjaan mereka
bergantung pada perkembangan manusia, khususnya pada abad ke-21.
Seperti
yang dikemukakan oleh Subekti, layanan bimbingan dan pendampingan yang
menyeluruh diharapkan dapat membantu setiap siswa agar dapat tumbuh dengan
baik. Guru bimbingan dan konseling memegang peranan penting dalam membantu
siswa dalam mengatasi hambatan belajar dan memberikan solusi terhadap berbagai
permasalahan. Menawarkan bimbingan review, motivasi, dan pertemuan pembinaan
individu merupakan beberapa endi yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan
belajar. Dengan memberikan motivasi terhadap kesulitan-kesulitan dalam belajar
diharapkan siswa dapat membangun semangat belajarnya dan berhasil mengatasi
kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. (Jambi et al., 2023)[6]
B.
Tokoh dalam Perkembangan
Bimbingan dan Konseling
Perkembangan
bimbingan dan konseling dipengaruhi oleh sejumlah tokoh yang memberikan
kontribusi dalam bidang bimbingan karier, psikologi, endidikan, dan
psikoterapi.[7] Didalam
tulisannya (Pribadi, 2020) menceritakan bahwa, pada awal abad ke-20, pergerakan
bimbingan dipelopori oleh tokoh-tokoh penting seperti Frank Parson, Jesse
Buttrick Davis, Clifford W. Beers, Eli Witwer Weaver, dan Anna Yeomans Reed.
Gerakan ini lahir dari ide-ide sosialisme yang menekankan mutualisme dan
reformasi sosial. Meski pada saat itu bimbingan belum diakui sebagai disiplin
ilmu yang pendidikan, perannya sudah mulai dirasakan sebagai bagian penting
dari pendidik pendidikan. Frank Parson, yang dikenal sebagai “Bapak Bimbingan”,
mendirikan vocational bureau di Boston tahun 1905 dan menerbitkan monograf
Choosing a Vocation (1909). Ia menekankan analisis diri dalam konteks sosial,
serta meyakini bahwa perkembangan individu dan social dapat mendorong
kesempurnaan masyarakat.
Tokoh
lain yang berperan besar adalah Jesse
Buttrick Davis, konselor pertama yang melaksanakan program bimbingan sistematis
di sekolah Detroit (1897–1907). Davis memanfaatkan kurikulum bahasa Inggris
untuk menanamkan nilai moral, kerja keras, cita-cita, dan pengembangan
karakter. Ia juga turut mendirikan National Vocational Guidance Association
yang kini menjadi National Career Development Association. Di sisi lain,
Clifford W. Beers memperkenalkan pentingnya kesehatan mental melalui karyanya A
Mind That Found Itself (1908), yang menjadi tonggak pergerakan layanan kesehatan
mental di Amerika Serikat dan memberi pengaruh pada pendekatan klinis dalam
bimbingan.
Selain
itu, Eli Witwer Weaver dikenal sebagai “Bapak Bimbingan Vokasi pada Sekolah
Umum” karena membentuk komite guru bimbingan di New York untuk membantu remaja
menemukan bakat dan kecocokan kerja. Anna Yeomans Reed, seorang edukator progresif,
juga berkontribusi dengan mengembangkan layanan konseling berbasis sosial darwinisme
di Seattle. Reed menekankan pentingnya bimbingan dalam kurikulum sekolah
sebagai penunjang pendidikan, agar siswa mampu melihat potensi diri dan
bersaing secara sehat di tengah tuntutan masyarakat modern. Dengan kontribusi
para pionir ini, bimbingan berkembang dari sekadar tambahan dalam pendidikan
menjadi gerakan yang menekankan pentingnya konseling, kesehatan mental, dan
pengembangan karier.[8]
C.
Sejarah Masuk dan
Perkembangan Bimbingan Konseling di Indonesia
Bimbingan dan
konseling di Indonesia berkembang sejalan dengan perubahan sistem pendidikan
dan meningkatnya perhatian terhadap perkembangan peserta didik. Pada tahap
awal, layanan ini dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan serta lebih
banyak diarahkan untuk membantu siswa mengatasi masalah belajar dan penyesuaian
diri. Perkembangan berikutnya memperluas fungsi BK sehingga mencakup bidang
pribadi, sosial, belajar, dan karier. Dalam perjalanan kelembagaannya,
bimbingan dan penyuluhan mulai memperoleh tempat dalam pendidikan tinggi dan Lembaga
pendidikan guru, kemudian berkembang menjadi profesi bimbingan dan konseling
yang memiliki landasan keilmuan, kode etik, serta program layanan yang lebih
terstruktur. Perubahan nama dari bimbingan dan penyuluhan menjadi bimbingan dan
konseling juga menunjukkan adanya perkembangan orientasi, yaitu dari pendekatan
yang cenderung menangani masalah menuju layanan yang menekankan perkembangan
potensi peserta didik.[9]
Setelah , arah
dan arah di Indonesia mengalami sedikit perubahan nama. Awalnya dikenal dengan
nama Bimbingan dan Konseling (BP) sebelum Kurikulum 1994 berganti nama menjadi
Bimbingan dan Konseling (BK). Penyelenggaraan BK mulai dikenal di Indonesia
sekitar tahun 1962. Padahal, BK baru diresmikan di sekolah-sekolah Indonesia
sejak rencana pendidikan tahun 1975 dilaksanakan. Rencana pendidikan tahun 1984
memuat arahan profesi untuk lebih mengembangkannya. Pada tahun 2001, kemajuan
BK ternyata semakin mantap. Pada tahun 2001, Ikatan Pejabat Bimbingan Indonesia
(IPBI) menggantikan Ikatan Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).
Kemungkinan munculnya arahan dan bimbingan sebagai panggilan yang mendapat
pengakuan dan kepercayaan masyarakat pada
hakikatnya mendorong berkembangnya nama ini. Pedoman Keterampilan Konsel
Indonesia dikembangkan oleh ABKIN, yang juga mengkoordinasikan pelatihan
keterampilan advokasi.[10]
D.
Bimbingan Konseling dalam
Pendidikan dan Kehidupan Modern
Perkembangan
teknologi informasi, perubahan pendidik, dan munculnya tantangan pendidikan
pada era Society 5.0 mendorong bimbingan dan konseling untuk mengembangkan
bentuk layanan yang lebih fleksibel dan inovatif. Layanan BK tidak lagi hanya
dilakukan secara tatap muka, tetapi juga dapat memanfaatkan berbagai media
digital, seperti konseling daring, aplikasi, video konferensi, dan platform
berbasis web. Pemanfaatan teknologi memungkinkan layanan BK menjangkau peserta
didik secara lebih luas serta membantu konselor memberikan layanan yang cepat
dan sesuai kebutuhan. Namun demikian, konselor tetap perlu memperhatikan
kerahasiaan data, etika Pendidikan l, keamanan komunikasi, kompetensi digital,
dan kualitas hubungan konseling. Dengan demikian, perkembangan BK pada masa
modern bukan sekadar penggunaan teknologi, melainkan juga penyesuaian
pendekatan layanan agar tetap humanis, pendidikan, inklusif, dan berorientasi
pada kesejahteraan psikologis peserta didik.[11]
Perkembangan BK
makin jelas di
masa Orde Lama
dan Orde Baru,
saat pemerintah lebih serius
memperhatikan layanan bimbingan
di sekolah. Ini
ditandai dengan penggunaan istilah Bimbingan dan Penyuluhan
(BP) serta penempatan guru BP di unit pendidikan, terutama di pendidikan menengah.
Saat itu, layanan BK lebih fokus pada penanganan disiplin, adaptasi diri, dan
masalah belajar siswa, sehingga guru BP sering dilihat sebagai “penyelesai
masalah” atau “pengawas ketertiban” di sekolah. Namun, periode ini menjadi
titik penting karena mulai ada pengakuan
resmi terhadap layanan
bimbingan dalam pendidikan
nasional, sekaligus fondasi untuk
mengembangkan BK sebagai profesi ke depannya. Seiring waktu, kritik terhadap
praktik BK yang hanya kuratif mendorong perubahan cara pandang dalam penyediaan
layanan.
Di era reformasi, perubahan
BK di Indonesia cukup besar, baik dari sisi konsep, tujuan, maupun tugas
konselor. BK tidak
lagi sekadar menangani
masalah siswa, tapi
berkembang menjadi layanan pencegahan
dan pengembangan potensi
pribadi. Pada masa
ini, profesionalisme guru BK atau konselor makin ditekankan, dengan
penguatan dasar akademik, kode etik, serta peningkatan kemampuan melalui pendidikan
dan pendidik. BK diarahkan untuk membantu
siswa mengenali kekuatan
diri, membangun keterampilan
sosial dan emosional, serta mempersiapkan masa depan,
khususnya di bidang pendidikan dan karier. Paradigma baru ini menunjukkan BK
punya peran kunci dalam mendukung pertumbuhan siswa secara utuh dan
berkesinambungan.
Evolusi BK
berlanjut hingga era
kurikulum terkini, seperti
Kurikulum 2013 dan Kurikulum
Merdeka, yang menjadikan
BK sebagai elemen
penting dalam mencapai
tujuan pendidikan nasional. Dalam
kurikulum itu, layanan
BK difokuskan untuk
mendukung pembentukan karakter, penguatan profil pelajar Pancasila,
serta kesejahteraan mental siswa di Pendidikan tantangan globalisasi dan
kemajuan teknologi. Konselor harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan
zaman, termasuk menggunakan teknologi digital dalam layanan BK, serta menanggapi masalah
baru seperti pendidik
akademik, isu sosial, dan
pendidikan jiwa. Dengan begitu, tinjauan ini menunjukkan bahwa
perkembangan BK di Indonesia adalah proses yang terus-menerus dan fleksibel yang mencerminkan upaya
pendidikan untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai konteks
sosial, budaya, dan zaman. [12]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bimbingan
dan konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu agar
mampu memahami dirinya, mengembangkan potensi yang dimiliki, serta
menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Dalam lingkungan pendidikan,
bimbingan dan konseling memiliki peran penting dalam membantu peserta didik,
baik dalam bidang pribadi, sosial, belajar, maupun karier. Pelaksanaan
bimbingan dan konseling perlu dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip yang tepat
agar layanan yang diberikan dapat berjalan secara efektif dan sesuai dengan
kebutuhan peserta didik. Dengan adanya bimbingan dan konseling, peserta didik
diharapkan mampu menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu
mengambil keputusan dengan baik.
Perkembangan
bimbingan dan konseling tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh penting seperti
Jesse B. Davis, Frank Parsons, Clifford Beers, Carl Rogers, dan B. F. Skinner.
Jesse B. Davis berperan dalam menerapkan program bimbingan di sekolah,
sedangkan Frank Parsons dikenal sebagai pelopor bimbingan karier melalui
pendirian Boston’s Vocational Bureau. Tokoh-tokoh lainnya turut memperkaya BK
melalui pendekatan psikoanalisis, humanistik, dan perilaku. Pemikiran mereka
menjadi dasar bagi teori dan praktik bimbingan dan konseling modern.
Bimbingan dan
konseling di Indonesia berkembang melalui lingkungan pendidikan dan pada awalnya
dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan. Pada tahap awal, layanan ini
lebih banyak diarahkan untuk membantu siswa yang mengalami masalah belajar,
perilaku, dan penyesuaian diri. Seiring perkembangan pendidikan, BK berubah
menjadi layanan yang bersifat lebih menyeluruh, yaitu membantu peserta didik
dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier. Dengan demikian, BK di
Indonesia kini menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan peserta
didik secara optimal.
Perubahan
teknologi dan munculnya era Society 5.0 menuntut bimbingan dan konseling untuk
beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern. Layanan BK kini dapat dilakukan
melalui media digital, seperti aplikasi, pesan elektronik, dan video call,
sehingga lebih mudah diakses oleh peserta didik. Namun, penggunaan teknologi
tetap harus disertai dengan kompetensi digital, perlindungan data, kerahasiaan,
etika, dan pendekatan humanis. Oleh karena itu, BK modern harus mampu memadukan
teknologi dengan empati agar tetap efektif dalam membantu peserta didik
menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
B.
Saran
Bimbingan
dan konseling hendaknya dilaksanakan secara optimal dan berkesinambungan di
lingkungan pendidikan. Guru atau konselor diharapkan mampu memberikan layanan
sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik serta menciptakan
suasana yang nyaman dan terbuka. Peserta didik juga diharapkan tidak ragu untuk
memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling ketika menghadapi kesulitan.
Selain itu, kerja sama antara guru, konselor, orang tua, dan peserta didik
perlu ditingkatkan agar tujuan bimbingan dan konseling dapat
tercapai dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Rima Irmayanti, Wiwin Yuliani,R.
(2020). “Layanan bimbingan dan konseling bagi peserta
didik berkebutuhan khusus”. Jurnal Pendidikan Khusus, 16(2), 87–93.
Haniza, N. (2024). “Sejarah
perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur”.
Yulianti, Nazila Syifa
Thohiroh,Journal Of Social Science Research Volume 4 Nomor 3 Tahun 2024.”Transformasi Profesi
Bimbingan dan Konseling Di Indonesia”.
Rimayati, E. (2023). Cyber
Counseling: “Inovasi Layanan Bimbingan Dan Konseling Di Era Digital”. Asadel Liamsindo Teknologi.
Jannah, M., dkk. (2024). “Konsep
Dasar Bimbingan dan Konseling.” Maliki Interdisciplinary
Journal.
Yulianti, Thohiroh, N. S., Guk Guk,
R. R., Putri, A. R., & Nurleni. (2024). “Transformasi
profesi bimbingan dan konseling di Indonesia”. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research,
4(3), 1651–1663. https://j- innovative.org/index.php/Innovative
Hendra Pribadi. (2020). “Kerangka
Historis Perkembangan Ilmu Bimbingan dan Konseling.”
Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo.
Yusup, M, Dkk. (2025). “Manajemen
bimbingan konseling dalam perspektif Islam”. Tahta Media Group. Hal 22-23
Yulianti,
Nazila Syifa Thohiroh. 2024. Transformasi Profesi Bimbingan dan Konseling Di Indonesia. Journal Of Social Science
Research 4 (3)
Wahyuningsih,
D. Dkk. (2023). Penerapan Layanan Bimbingan Konseling terhadap Perkembangan Perilaku Sosial Peserta
Didik di SMA Negeri 2 Kota Jambi. 7, 1775–1779.
Burhani, I. K., Hidayah, N., &
Wahyuni, F. (2024). “Inovasi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Era Society 5.0.” G-Couns:
Jurnal Bimbingan dan Konseling,
8(2), 683–698.
Hakimah, M., Sunarti, T.,
Febriyanti, I., & Elfiyanti, I. (2026). Perkembangan gerakan bimbingan konseling di Indonesia dari masa
ke masa. Harmoni Pendidikan: Jurnal
Ilmu Pendidikan, 3(1), 103–109. https://doi.org/10.62383/hardik.v3i1.2871
[1]Rima
Irmayanti, Wiwin Yuliani,R. (2020). Layanan bimbingan dan konseling bagi
peserta didik berkebutuhan khusus. Jurnal Pendidikan Khusus, 16(2), 87–93.
[2]Haniza,
N. (2024). Sejarah perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia. Jurnal
Mahasiswa BK An-Nur.
[3]Yulianti,
Nazila Syifa Thohiroh,Journal Of Social Science Research Volume 4 Nomor 3 Tahun
2024.Transformasi Profesi Bimbingan dan Konseling Di Indonesia.
[4]Rimayati,
E. (2023). Cyber Counseling: Inovasi Layanan Bimbingan Dan Konseling Di Era
Digital. Asadel Liamsindo Teknologi.
[5]Jannah,
M., dkk. (2024). “Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling.” Maliki
Interdisciplinary Journal.
[6]
Yulianti, Thohiroh, N. S., Guk Guk, R. R., Putri, A. R., & Nurleni. (2024).
Transformasi profesi bimbingan dan konseling di Indonesia. INNOVATIVE:
Journal of Social Science Research, 4(3), 1651–1663. https://j-innovative.org/index.php/Innovative
[7]
Hendra Pribadi. (2020). “Kerangka Historis Perkembangan Ilmu Bimbingan dan
Konseling.” Jurnal Bimbingan dan
Konseling Borneo.
[8]
Yusup, M, Dkk. (2025). Manajemen bimbingan konseling dalam perspektif Islam.
Tahta Media Group. Hal 22-23
[9]Yulianti,
Nazila Syifa Thohiroh. 2024. Transformasi Profesi Bimbingan dan Konseling Di
Indonesia. Journal Of Social Science Research 4 (3)
[10]Wahyuningsih,
D. Dkk. (2023). Penerapan Layanan Bimbingan Konseling terhadap Perkembangan Perilaku
Sosial Peserta Didik di SMA Negeri 2 Kota Jambi. 7, 1775–1779.
[11]Burhani,
I. K., Hidayah, N., & Wahyuni, F. (2024). “Inovasi Pelaksanaan Layanan
Bimbingan dan Konseling Era Society 5.0.” G-Couns: Jurnal Bimbingan dan
Konseling, 8(2), 683–698.
[12]
Hakimah, M., Sunarti, T., Febriyanti, I., & Elfiyanti, I. (2026).
Perkembangan gerakan bimbingan konseling di Indonesia dari masa ke masa. Harmoni
Pendidikan: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(1), 103–109. https://doi.org/10.62383/hardik.v3i1.2871
Tidak ada komentar:
Posting Komentar